Banyak orang memulai pemahaman hidup dari satu asumsi sederhana: dunia sosial bekerja secara adil. Siapa yang berusaha, ia berhasil. Siapa yang gagal, berarti kurang berjuang. Logika ini terasa masuk akal dan sering dipakai untuk menilai diri sendiri maupun orang lain.
Namun bagi Pierre Bourdieu, asumsi ini justru menutup mata terhadap cara kekuasaan dan ketimpangan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak menyangkal pentingnya usaha, tetapi mempertanyakan satu hal mendasar: apakah semua orang berusaha di lapangan yang sama.
Bourdieu memulai dari hal yang paling dekat, bukan hukum atau kebijakan, melainkan cara orang terbiasa berpikir, berbicara, dan menilai diri sendiri. Dari sini muncul konsep habitus.
Habitus adalah kumpulan disposisi yang terbentuk sejak awal kehidupan melalui keluarga, lingkungan, dan pendidikan. Ia membentuk rasa percaya diri, selera, dan intuisi tentang apa yang terasa pantas atau tidak pantas. Karena habitus bekerja otomatis, struktur sosial sering terasa seperti sesuatu yang memang seharusnya begitu.
Di sisi lain, kehidupan sosial tidak hanya berisi individu. Ia terdiri dari banyak arena. Sekolah, kampus, dunia kerja, seni, politik. Bourdieu menyebut arena ini sebagai field. Setiap field memiliki aturan sendiri tentang apa yang dianggap bernilai, cara berbicara yang dihargai, dan perilaku yang dinilai layak.
Masalahnya, aturan ini tidak pernah dibagikan secara terbuka. Sebagian orang mempelajarinya sejak kecil karena tumbuh di lingkungan yang selaras dengan field tertentu. Sebagian lain harus menebak sambil berjalan, sering kali setelah menerima penilaian negatif.
Ketika seseorang memasuki sebuah field, ia membawa bekal yang berbeda. Inilah yang disebut capital. Ada economic capital berupa uang dan aset. Ada cultural capital berupa pendidikan, bahasa, selera budaya, dan gaya berpikir. Ada social capital berupa jaringan dan relasi. Ketika modal-modal ini diakui oleh arena, ia berubah menjadi symbolic capital berupa prestise, reputasi, dan legitimasi.
Yang sering keliru dipahami, symbolic capital tampak seperti kualitas personal. Kita menyebut seseorang “cerdas”, “berkelas”, atau “berwibawa” seolah itu sifat bawaan. Padahal ia adalah hasil kecocokan antara modal yang dibawa dan aturan arena.
Di sinilah habitus kembali berperan. Habitus menentukan cara bermain. Cara berbicara di rapat, cara mengajukan pendapat di kelas, cara merasa percaya diri saat dinilai. Ketika habitus seseorang selaras dengan field tempat ia berada, tindakannya terlihat alami. Keputusannya terasa tepat. Bukan karena ia lebih berbakat, tetapi karena cara bergeraknya sesuai dengan logika yang tidak tertulis.
Sebaliknya, ketika habitus tidak selaras, seseorang sering tampak salah langkah. Bukan karena kurang cerdas, tetapi karena ia bermain di arena yang aturannya tidak pernah diwariskan kepadanya.
Di titik inilah bekerja symbolic violence. Ini bukan kekerasan fisik, melainkan pemaksaan makna. Nilai kelompok dominan diperlakukan sebagai standar umum, lalu disebut objektif. Mereka yang gagal diyakinkan bahwa kegagalannya adalah kesalahan pribadi, bukan akibat desain arena.
Pendidikan menjadi contoh yang paling jelas. Sekolah menghargai cultural capital tertentu: bahasa tertentu, cara berpikir tertentu, kebiasaan membaca tertentu. Anak yang tumbuh dengan modal itu terlihat unggul. Anak yang tidak memilikinya harus menyesuaikan diri sambil terus dinilai. Ketimpangan pun direproduksi, bukan melalui larangan terbuka, tetapi melalui standar yang dianggap normal.
Inilah inti theory of practice Bourdieu. Individu memang berusaha. Kompetisi memang ada. Tetapi lapangannya tidak pernah benar-benar rata. Budaya dan pendidikan lalu bekerja sebagai mekanisme pewarisan keunggulan lintas generasi, sambil menyebut hasilnya sebagai prestasi atau pilihan pribadi.
Bourdieu tidak sedang meniadakan tanggung jawab individu. Ia justru memperluas cara kita membaca tanggung jawab itu. Usaha selalu bekerja di dalam batas struktur. Tanpa memahami habitus, capital, dan field, kita terlalu cepat menyederhanakan realitas sosial.
Dan mungkin di situlah kritik terpentingnya:
ketimpangan paling kuat bukan yang dipaksakan secara kasar, tetapi yang terasa masuk akal.