Ada satu asumsi yang sering beredar di kalangan penulis pemula. Menulis itu soal bakat dan imajinasi. Pengetahuan dianggap tambahan, bahkan kadang diposisikan sebagai beban. Anggapan ini keliru. Dalam praktik nyata, pengetahuan bukan penghalang kreativitas, tetapi fondasinya.
Coba lihat rumus sederhana ini.
Prior knowledge + trigger = inspiration.
Inspirasi jarang muncul dari ruang kosong. Ia lahir ketika sesuatu yang sudah kita ketahui bertemu dengan pemicu kecil. Bisa berupa obrolan di warung kopi, satu kalimat dari buku, potongan berita, atau pengalaman sepele. Tanpa pengetahuan awal, pemicu itu lewat begitu saja tanpa makna.
Kalimat terkenal yang sering dikutip berbunyi, imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world. Banyak orang berhenti di situ dan merasa cukup dengan angan-angan. Padahal makna kalimat itu sering disederhanakan berlebihan.
Imajinasi Bukan Daydreaming
Yang dimaksud imajinasi di sini bukan daydreaming. Bukan lamunan tanpa arah. Yang bekerja dalam menulis adalah imagining, angan-angan yang terarah. Imajinasi yang bergerak di atas rel pengetahuan. Pengetahuan memberi batas, dan justru dari batas itu imajinasi bisa melompat lebih jauh.
Tanpa pengetahuan, imajinasi mudah jadi abstrak dan tidak membumi. Sebaliknya, pengetahuan tanpa imajinasi hanya akan menjadi kumpulan data yang kering. Keduanya saling membutuhkan.
Tulisan sebagai Media Perkembangbiakan Gagasan
Saat seorang penulis menulis, yang dibagikan sebenarnya adalah potongan imajinasi. Namun begitu tulisan itu dibaca orang lain, imajinasi tersebut tidak lagi sepenuhnya milik penulis. Ia berkembang, bercabang, dan diperdalam oleh pengalaman pembaca. Proses ini sering terjadi tanpa disadari oleh penulisnya.
Di titik inilah menulis menjadi kerja pengetahuan sekaligus kerja sosial. Penulis tidak sekadar menuangkan pikiran, tetapi menyalakan rangkaian imajinasi di kepala orang lain. Dan semua itu berangkat dari satu hal yang sering diremehkan, pengetahuan yang terus diasah.