Press ESC to close

Actor–Network Theory

  • Jan 06, 2026
  • 3 minutes read

Organisasi sering dipahami sebagai kumpulan manusia: pimpinan, staf, unit kerja, dan pembagian peran yang jelas. Ketika sesuatu tidak berjalan, penjelasan yang muncul hampir selalu mengarah ke aktor manusia—kurangnya kompetensi, lemahnya kepemimpinan, atau resistensi pegawai. Teknologi, dokumen, prosedur, dan sistem informasi diperlakukan sebagai alat bantu netral yang sekadar mengikuti kehendak manusia.

Actor–Network Theory mengajukan cara pandang yang sangat berbeda. Ia mempertanyakan asumsi dasar tersebut dan mengusulkan bahwa organisasi tidak pernah hanya terdiri dari manusia. Yang bekerja dalam organisasi adalah jaringan relasi antara manusia dan non-manusia, yang bersama-sama membentuk tindakan, keputusan, dan stabilitas organisasi.


Teori ini berkembang dari kajian Science and Technology Studies dan diasosiasikan kuat dengan pemikiran Bruno Latour , bersama Michel Callon dan John Law . Salah satu karya kunci yang mempopulerkan pendekatan ini adalah buku Reassembling the Social , yang secara eksplisit menolak pandangan sosial sebagai sesuatu yang sudah “ada” sebelum relasi terbentuk.

Dalam kerangka Actor–Network Theory, yang disebut aktor tidak dibatasi pada manusia. Perangkat lunak, formulir, regulasi, indikator kinerja, algoritma, bahkan laporan statistik dapat bertindak sebagai aktor karena mereka mempengaruhi apa yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan dalam organisasi.


Inti dari Actor–Network Theory bukanlah struktur atau budaya organisasi, melainkan relasi. Organisasi dipahami sebagai jaringan yang terus-menerus dibentuk, distabilkan, dan dinegosiasikan melalui interaksi berbagai aktor. Tidak ada pusat kendali tunggal yang sepenuhnya berdaulat. Kekuasaan muncul karena suatu aktor—manusia atau non-manusia—berhasil mengikat aktor lain ke dalam jaringan yang relatif stabil.

Konsep penting dalam teori ini adalah translation: proses ketika kepentingan berbagai aktor diselaraskan sehingga jaringan dapat bekerja. Dalam proses ini, dokumen, sistem, atau prosedur sering kali berperan sebagai penghubung yang “memaksa” keselarasan, bukan sekadar mencatat keputusan manusia.


Jika organisasi dibaca melalui lensa Actor–Network Theory, banyak fenomena sehari-hari terlihat berbeda. Kebijakan tidak berjalan bukan semata karena kurangnya komitmen pegawai, tetapi karena jaringan aktor yang menopangnya rapuh. Sistem informasi yang “gagal” bukan hanya masalah teknis, melainkan karena ia tidak berhasil merekrut pengguna, prosedur, dan makna kerja ke dalam satu jaringan yang koheren.

Dari sudut pandang ini, perubahan organisasi bukan soal mengganti orang atau struktur semata, melainkan membangun ulang jaringan: mengubah relasi antara manusia, teknologi, aturan, dan praktik kerja. Inovasi gagal bukan karena ide buruk, tetapi karena jaringan pendukungnya tidak pernah benar-benar terbentuk.


Implikasi strategis Actor–Network Theory cukup radikal. Evaluasi kebijakan atau program organisasi tidak bisa berhenti pada aktor manusia. Dokumen, indikator, aplikasi, dan standar operasional harus diperlakukan sebagai aktor aktif yang ikut membentuk perilaku organisasi. Intervensi yang hanya menyasar pelatihan manusia, tanpa mengubah artefak non-manusia yang mengikat kerja sehari-hari, hampir selalu berujung pada kegagalan implementasi.

Dalam konteks organisasi publik, teori ini menjelaskan mengapa reformasi administratif sering berhenti sebagai slogan. Regulasi baru mungkin sudah diterbitkan, tetapi jaringan lama—formulir, sistem lama, kebiasaan pelaporan—tetap bekerja dan mengalahkan logika kebijakan baru.


Namun, Actor–Network Theory juga memiliki keterbatasan. Pendekatan ini sangat kuat untuk membongkar bagaimana stabilitas organisasi dibangun, tetapi sering dikritik karena kurang memberi ruang pada analisis normatif. Ia menjelaskan bagaimana jaringan bekerja, tetapi tidak selalu menjawab apakah jaringan tersebut adil, efisien, atau diinginkan. Selain itu, fokus pada relasi mikro dapat membuat analisis menjadi sangat kompleks dan sulit diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang sederhana.


Jika organisasi terus gagal berubah meski aktor manusia sudah berganti, mungkin masalahnya bukan pada individu. Mungkin yang perlu ditanya adalah: jaringan apa yang sebenarnya sedang bekerja di balik layar organisasi?

Actor–Network Theory tidak menawarkan solusi cepat. Ia hanya memaksa kita melihat organisasi apa adanya: bukan sebagai entitas tunggal, melainkan sebagai jaringan rapuh yang terus-menerus dinegosiasikan oleh manusia dan non-manusia.

Related Posts

Networks, Actors & Sociomateriality

Social Capital Theory

  • Jan 08, 2026
  • 4 minutes read
  • 146 Views
Social Capital Theory
Mas Wicarita

Founder WIcarita, portal untuk Knowledge Management System