Mengerti atau Kagum, Tapi Bingung
Ada pengalaman yang sering terjadi. Kita mendengar seseorang berbicara dan langsung paham maksudnya. Kalimatnya tenang, tidak berputar-putar, inti pesannya cepat tertangkap. Di sisi lain, ada juga orang yang berbicara panjang lebar, penuh kiasan dan ornamen bahasa, tetapi setelah selesai kita justru bertanya, “Sebenarnya dia mau bilang apa?”
Fenomena sederhana ini ternyata bukan hal baru. Sejak lama, dunia komunikasi sudah mengenal dua gaya besar yang menjelaskan perbedaan itu: Atisisme dan Asianisme.
Atisisme: Sederhana, Tepat, dan Langsung ke Inti
Atisisme lahir dari wilayah Attica di Yunani, lingkungan para pemikir yang terkenal dengan kejernihan nalar. Gaya ini mengutamakan kesederhanaan yang disiplin.
Ciri utamanya jelas:
Bahasa ringkas dan terukur
Kalimat tidak bertele-tele
Setiap kata punya fungsi
Fokus pada inti, bukan hiasan
Atisisme tidak mencoba memukau. Ia bekerja seperti guru yang baik, yang mampu mengurai hal rumit menjadi terang dan mudah dipahami. Tidak tergesa-gesa, tidak berisik, tidak dramatis. Yang berdiri di depan pendengar adalah isi, bukan gaya.
Dalam praktik sehari-hari, gaya ini terasa nyaman. Kita tahu ke mana arah pembicaraan, dan kita tidak perlu menebak-nebak makna di balik kata-kata.
Asianisme: Megah, Dramatis, dan Penuh Warna
Di sisi lain ada Asianisme, gaya yang berkembang di Asia Kecil dan dikenal dengan ekspresi yang berlimpah. Jika Atisisme seperti air bening, Asianisme seperti kembang api.
Ciri khasnya:
Kalimat panjang dan rumit
Pilihan kata yang bombastis
Irama dan emosi yang kuat
Nuansa pertunjukan yang kental
Asianisme bisa sangat memikat, terutama di pidato besar atau momen yang menuntut energi. Pendengar bisa terhanyut oleh suara, ritme, dan kemegahan bahasa.
Namun di situlah risikonya. Ketika hiasan terlalu dominan, isi bisa tenggelam. Seperti makanan dengan kemasan indah yang membuat kita tertarik, tetapi rasa sebenarnya tidak selalu sebanding dengan tampilannya.
Posisi Cicero: Jernih Lebih Utama daripada Ramai
Di antara dua gaya ini, berdirilah Cicero. Ia menguasai bahasa yang indah dan kompleks, tetapi secara prinsip lebih berpihak pada Atisisme.
Bagi Cicero, retorika terbaik bukan yang paling ramai, melainkan yang paling jernih. Kata-kata seharusnya menjadi kendaraan bagi kebenaran, bukan tirai yang menutupinya. Keindahan bahasa boleh hadir, tetapi tidak boleh mengalahkan kejelasan makna.
Sederhananya, gaya harus melayani pesan, bukan sebaliknya.
Relevansi di Kehidupan Modern
Pelajaran ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Di era pesan singkat, email, presentasi cepat, dan media sosial, kita sering dihadapkan pada pilihan yang sama:
Mau terdengar jelas
Atau mau terdengar wah
Ketika menyampaikan hal penting, Atisisme sering menjadi pilihan aman. Pesan cepat sampai, tidak melelahkan, dan kecil risiko disalahpahami. Namun Asianisme juga punya tempatnya, terutama saat kita ingin membangun semangat, menarik perhatian, atau menciptakan suasana tertentu.
Menentukan Gaya dengan Tujuan
Kuncinya bukan memilih satu dan menolak yang lain, melainkan menyadari tujuan komunikasi.
Jika tujuannya pemahaman, kejelasan adalah prioritas.
Jika tujuannya menggugah emosi, gaya bisa diberi ruang lebih.
Yang perlu dijaga adalah satu hal: pesan tidak hilang di perjalanan.
Karena setiap kali kita berbicara, kita sedang membangun jembatan antara pikiran kita dan pikiran orang lain. Dan jembatan yang baik bukan yang paling indah dilihat, tetapi yang benar-benar membawa orang sampai ke tujuan.