Press ESC to close

Bab 1 Mengapa Kita Menjadi Kita

  • Mei 31, 2026
  • 8 minutes read

Bab 1

Mengapa Kita Menjadi Kita

Pada tahun 1979, dua orang pria memasuki sebuah ruangan di Ohio, Amerika Serikat. Keduanya belum pernah bertemu sebelumnya. Setidaknya demikian yang mereka yakini. Mereka duduk berhadapan dan memulai percakapan yang pada awalnya tampak biasa saja. Tidak ada suasana dramatis. Tidak ada peristiwa besar yang menandai pertemuan tersebut. Hanya dua orang asing yang mencoba saling mengenal melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang lazim muncul ketika seseorang bertemu untuk pertama kali.

Namun semakin lama percakapan berlangsung, semakin sulit bagi mereka untuk menganggap pertemuan itu sebagai sesuatu yang biasa.

Salah satu dari mereka pernah menikah dengan seorang perempuan bernama Linda. Yang lain juga. Salah satu dari mereka kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Betty. Yang lain juga. Salah satu dari mereka memiliki seekor anjing yang diberi nama Toy. Yang lain juga.

Kesamaan tersebut mungkin masih dapat dianggap sebagai kebetulan apabila berhenti sampai di sana. Akan tetapi, semakin banyak kisah hidup yang mereka bagikan, semakin banyak pula pola yang tampak. Mereka memiliki minat yang mirip, kebiasaan yang mirip, dan dalam beberapa hal bahkan mengambil keputusan-keputusan hidup yang sangat mirip. Apa yang awalnya tampak sebagai pertemuan dua orang asing perlahan berubah menjadi sebuah teka-teki yang sulit dijelaskan.

Kedua pria tersebut bernama Jim.

Mereka adalah saudara kembar identik yang dipisahkan sejak lahir.

Selama puluhan tahun mereka tumbuh dalam keluarga yang berbeda, hidup di lingkungan yang berbeda, memiliki teman yang berbeda, dan menjalani pengalaman yang berbeda. Mereka tidak berbagi masa kecil. Mereka tidak berbagi sekolah. Mereka tidak berbagi lingkungan sosial. Namun ketika akhirnya dipertemukan kembali, berbagai kemiripan yang mengejutkan muncul ke permukaan.

Kisah Jim Lewis dan Jim Springer kemudian menjadi salah satu kasus yang paling sering dibahas dalam penelitian tentang perkembangan manusia. Para ilmuwan melihatnya sebagai peluang langka untuk memahami salah satu pertanyaan tertua dalam ilmu perilaku manusia. Seberapa besar kehidupan kita ditentukan oleh faktor bawaan, dan seberapa besar kehidupan kita dibentuk oleh pengalaman yang kita jalani?

Yang membuat kisah Jim bersaudara begitu menarik sebenarnya bukanlah kemiripan yang mereka miliki. Dunia penuh dengan kebetulan yang aneh. Yang membuat para peneliti tertarik adalah pertanyaan yang muncul setelahnya. Jika dua orang yang tumbuh di lingkungan berbeda masih menunjukkan begitu banyak kemiripan, seberapa besar kehidupan manusia sebenarnya telah ditentukan sejak awal? Dan jika lingkungan tetap menghasilkan perbedaan yang nyata di antara mereka, seberapa besar pengalaman hidup ikut menulis arah kehidupan seseorang?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membawa kita kepada persoalan yang jauh lebih dekat daripada sekadar kisah dua saudara kembar. Persoalan tersebut menyentuh kehidupan setiap orang yang pernah bertanya mengapa dirinya menjadi seperti sekarang.

Mengapa kita menjadi kita?

Pertanyaan ini terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk dianggap penting. Kita hidup bersama diri sendiri setiap hari. Kita mengenali kebiasaan kita. Kita mengenali cara kita berpikir. Kita mengenali hal-hal yang kita sukai dan hal-hal yang kita hindari. Karena begitu akrab dengan diri sendiri, kita sering menganggap bahwa semua itu memang sudah sewajarnya demikian.

Namun ketika pertanyaan tersebut dipikirkan lebih dalam, jawabannya ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Mengapa ada orang yang tumbuh dengan keyakinan yang kuat terhadap kemampuannya, sementara orang lain selalu merasa dirinya kurang layak meskipun memiliki kemampuan yang sama? Mengapa dua saudara yang dibesarkan di rumah yang sama dapat memiliki pandangan hidup yang sangat berbeda? Mengapa satu kegagalan membuat seseorang berhenti melangkah, sementara kegagalan yang serupa justru menjadi titik balik bagi orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah menemani manusia jauh sebelum psikologi menjadi ilmu pengetahuan modern. Para filsuf, ilmuwan, pendidik, dan pemikir sosial berusaha memahami bagaimana seseorang berkembang menjadi dirinya sendiri. Di balik semua perbedaan pandangan, terdapat satu kesepakatan yang perlahan muncul. Identitas manusia tidak pernah lahir dari satu sumber tunggal.

Sebagian berasal dari apa yang kita bawa sejak lahir.

Sebagian berasal dari dunia tempat kita tumbuh.

Sebagian lagi berasal dari pengalaman yang kita jalani, hubungan yang kita bangun, keputusan yang kita ambil, dan berbagai peristiwa yang meninggalkan bekas dalam kehidupan.

Bayangkan dua anak yang tumbuh dalam keluarga yang sama. Mereka tinggal di rumah yang sama, memiliki orang tua yang sama, dan menghadapi lingkungan yang relatif sama. Namun ketika dewasa, salah satu tumbuh menjadi pribadi yang berani mengambil risiko sementara yang lain cenderung berhati-hati. Salah satu mudah bergaul sementara yang lain lebih menikmati kesendirian. Salah satu melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar, sementara yang lain melihatnya sebagai ancaman yang harus dihindari.

Perbedaan semacam itu tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan faktor bawaan atau lingkungan. Ada sesuatu yang terjadi di sepanjang perjalanan hidup mereka. Ada proses yang bekerja secara perlahan, sering kali tanpa disadari, hingga akhirnya membentuk cara mereka memahami dunia.

Karena itu, memahami manusia pada dasarnya adalah memahami sebuah proses.

Manusia bukanlah produk akhir yang selesai dibentuk sejak lahir. Manusia lebih menyerupai sebuah perjalanan yang terus bergerak. Setiap pengalaman meninggalkan pengaruh. Setiap hubungan meninggalkan bekas. Setiap keberhasilan, kegagalan, kehilangan, dan harapan yang pernah dialami perlahan ikut membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Apa yang kita lihat sebagai karakter pada hari ini sering kali merupakan hasil dari proses yang berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Identitas bukanlah sesuatu yang muncul dalam satu malam. Identitas terbentuk melalui akumulasi pengalaman yang panjang, sering kali begitu panjang sehingga kita lupa dari mana semuanya bermula.

Kesulitan terbesar dalam memahami diri sendiri terletak pada kenyataan bahwa kita selalu berada di dalam proses tersebut. Seekor ikan mungkin tidak menyadari keberadaan air karena air selalu mengelilinginya. Dengan cara yang serupa, manusia sering kali tidak menyadari berbagai pengaruh yang membentuk dirinya karena pengaruh tersebut telah hadir begitu lama hingga terasa sebagai sesuatu yang alami.

Kita menganggap cara berpikir tertentu sebagai milik kita. Kita menganggap keyakinan tertentu sebagai bagian dari diri kita. Kita menganggap pilihan-pilihan tertentu sebagai hasil keputusan pribadi. Padahal sebagian dari semua itu mungkin berasal dari sumber yang tidak pernah kita sadari sepenuhnya.

Seorang anak yang tumbuh di lingkungan yang menghargai rasa ingin tahu akan memandang pertanyaan sebagai sesuatu yang wajar. Anak yang tumbuh di lingkungan yang menuntut kepatuhan tanpa ruang diskusi mungkin memandang pertanyaan sebagai bentuk pembangkangan. Seiring waktu, kedua anak tersebut dapat membawa cara pandang itu hingga dewasa tanpa pernah mempertanyakan dari mana asalnya.

Hal yang sama terjadi pada begitu banyak aspek kehidupan. Cara kita memandang keberhasilan, cara kita menghadapi kegagalan, cara kita membangun hubungan dengan orang lain, bahkan cara kita menilai diri sendiri sering kali memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.

Ketika seseorang berkata, "Aku memang orang yang mudah cemas," atau "Aku memang bukan tipe pemimpin," pernyataan tersebut sering terdengar seperti fakta yang tidak dapat diperdebatkan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, keyakinan seperti itu biasanya memiliki sejarah. Ada pengalaman yang mendahuluinya. Ada peristiwa yang memberi bahan bakar. Ada makna yang dibangun secara perlahan hingga akhirnya terasa sebagai kebenaran tentang diri sendiri.

Dengan kata lain, masa lalu tidak selalu tinggal di masa lalu. Sebagian dari masa lalu terus hidup dalam cara kita memahami dunia pada hari ini.

Inilah alasan mengapa buku ini tidak dimulai dengan pembahasan tentang kesuksesan, produktivitas, kebiasaan, atau perubahan diri. Sebelum berbicara tentang ke mana seseorang ingin pergi, ada pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu dijawab terlebih dahulu. Pertanyaan tersebut adalah bagaimana seseorang sampai berada di titik kehidupannya yang sekarang.

Sebab tidak mungkin memahami arah sebuah sungai tanpa memahami dari mana alirannya bermula.

Metafora sungai akan menemani perjalanan kita sepanjang buku ini. Sebuah sungai tidak terbentuk dari satu tetes air. Sungai lahir dari ribuan bahkan jutaan tetes yang berkumpul, mengalir, bertemu dengan berbagai kondisi alam, lalu membentuk jalurnya sendiri. Dalam perjalanannya, sungai melewati bebatuan, lereng, dataran, dan berbagai hambatan yang mengubah bentuk alirannya. Setiap bagian perjalanan meninggalkan pengaruh terhadap arah yang akhirnya ditempuh.

Kehidupan manusia memiliki kemiripan yang menarik dengan proses tersebut.

Tidak ada satu peristiwa tunggal yang sepenuhnya menjelaskan siapa diri kita. Identitas terbentuk melalui akumulasi berbagai pengalaman yang saling terhubung. Sebagian pengalaman memberikan dorongan. Sebagian memberikan luka. Sebagian membuka kemungkinan baru. Sebagian lagi menciptakan batasan yang tidak terlihat.

Namun pengalaman saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.

Dua orang dapat menghadapi peristiwa yang hampir sama dan menghasilkan kehidupan yang sangat berbeda. Dua saudara dapat dibesarkan dalam keluarga yang sama tetapi membawa keyakinan yang berbeda tentang dirinya. Bahkan seseorang dapat memandang satu peristiwa dengan cara yang berbeda pada dua tahap kehidupan yang berbeda.

Ketika kita melihat kehidupan seseorang dari luar, kita sering hanya melihat peristiwanya. Kita melihat keberhasilan dan kegagalan, pertemuan dan perpisahan, kesempatan dan kehilangan. Namun manusia tidak hidup di dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Manusia hidup di dalam pemahamannya tentang peristiwa-peristiwa tersebut.

Di antara apa yang terjadi dan siapa diri kita terdapat sebuah ruang yang sering luput dari perhatian. Di ruang itulah pengalaman diberi arti. Di ruang itulah sebagian harapan lahir, sebagian ketakutan tumbuh, dan sebagian keyakinan tentang diri mulai terbentuk.

Perjalanan memahami ruang tersebut akan membawa kita lebih dekat kepada jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul bab ini.

Mengapa kita menjadi kita.

Dan untuk memahaminya, kita perlu memulai dari sesuatu yang jarang terlihat tetapi selalu hadir dalam kehidupan manusia.

Cara kita memberi makna pada pengalaman.

Mas Wicarita

Founder WIcarita, portal untuk Knowledge Management System