Press ESC to close

Menulis di Tengah Tren

  • Apr 14, 2025
  • 3 minutes read

Banyak buku lahir bukan semata karena dorongan idealisme, tapi karena ada permintaan. Di titik ini, dunia kepenulisan tidak jauh berbeda dengan hukum ekonomi klasik, supply and demand. Ada topik yang sedang naik, ada kebutuhan pembaca, lalu muncul buku yang menjawab kebutuhan itu.

Masalahnya bukan apakah pendekatan ini salah atau benar. Masalahnya ada pada kesadaran penulis saat masuk ke permainan ini. Apakah sedang menulis karena memahami medan, atau sekadar ikut arus tanpa arah.

Tren sebagai Peta, Bukan Tujuan

Penulis yang ingin karyanya dibaca luas perlu membaca tren. Tren memberi sinyal tentang apa yang sedang dicari orang. Tema produktivitas, kesehatan mental, AI, self-improvement, atau spiritualitas populer bukan muncul tiba-tiba. Semua lahir dari kegelisahan kolektif.

Namun tren seharusnya diperlakukan sebagai peta, bukan tujuan akhir. Di sinilah posisi penulis menjadi krusial. Tanpa posisi yang jelas, tulisan hanya akan menjadi salinan dari ratusan karya lain yang membicarakan hal serupa.

Ada kalimat yang sering dipakai di dunia trading: always trade in the direction of the trend. Berdaganglah searah tren. Dalam menulis, prinsip ini bisa dipakai dengan catatan. Searah bukan berarti meniru. Searah berarti memahami arah percakapan publik, lalu masuk dengan sudut pandang sendiri.

Penulis yang Mengikuti Tren vs Menciptakan Tren

Penulis pemula biasanya belajar membaca tren. Penulis profesional melangkah lebih jauh. Mereka tidak hanya mengikuti, tapi mampu membentuk percakapan baru. Di sini muncul perbedaan antara penulis yang reaktif dan penulis yang strategis.

Penulis yang menciptakan tren biasanya punya dua hal. Pertama, kedalaman gagasan. Kedua, konsistensi suara. Pembaca tidak hanya mencari topik, tapi mencari cara berpikir tertentu. Nama penulis menjadi jaminan kualitas dan sudut pandang.

Ketika ini tercapai, tren justru mengikuti penulis, bukan sebaliknya.

Nilai Komersial dan Nilai Non-Komerial

Dari sisi komersial, menulis bisa membuka banyak pintu. Buku menghasilkan royalti. Nama membuka peluang menjadi pembicara. Ide bisa difilmkan, dijadikan serial, atau turunan produk lain. Ini jalur finansial yang sah dan realistis.

Namun ada jalur lain yang sering lebih tahan lama, jalur non-komersial. Reputasi. Branding intelektual. Kredibilitas. Nama yang diasosiasikan dengan satu bidang tertentu. Nilai ini tidak selalu langsung terlihat, tapi dampaknya jangka panjang.

Penulis yang paham strategi tidak mempertentangkan dua jalur ini. Keduanya bisa berjalan bersamaan jika penulis tahu apa yang sedang dibangun.

Intinya

Menulis di tengah tren bukan soal ikut-ikutan atau idealisme kosong. Ini soal membaca konteks, menentukan posisi, dan sadar tujuan. Apakah sedang membangun pendapatan, membangun nama, atau keduanya.

Tren akan selalu datang dan pergi. Yang menentukan umur panjang seorang penulis adalah kejernihan arah berpikir dan konsistensi suara yang dibawa ke setiap tulisan.

Related Posts

Creative Thinking

Leonardo da Vinci

  • Feb 26, 2026
  • 4 minutes read
  • 184 Views
Leonardo da Vinci
Creative Thinking

Mengganti Level Berpikir

  • Des 12, 2025
  • 2 minutes read
  • 226 Views
Mengganti Level Berpikir
The Decision Book sebagai Kotak Alat Berpikir
Creative Thinking

Critical Thinking di Era AI

  • Jun 03, 2025
  • 2 minutes read
  • 462 Views
Critical Thinking di Era AI
Mas Wicarita

Founder WIcarita, portal untuk Knowledge Management System