Pengetahuan yang Tidak Pernah Sepenuhnya Bisa Dijelaskan
Pengalaman belajar bersepeda memperlihatkan satu pola yang konsisten. Instruksi bisa disampaikan dengan detail, tetapi kemampuan menjaga keseimbangan muncul melalui penyesuaian yang tidak pernah sepenuhnya bisa dijelaskan.
Gagasan ini dirumuskan secara kuat oleh Michael Polanyi melalui pernyataan:
“We can know more than we can tell.”
Kalimat ini bukan sekadar refleksi filosofis. Ia menunjukkan bahwa sebagian pengetahuan bekerja di luar struktur bahasa. Pengetahuan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang bisa dituliskan atau diajarkan secara langsung.
Pemikiran tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Harry Collins, terutama ketika pembahasan masuk ke wilayah teknologi dan kecerdasan buatan.
Mengapa Pengetahuan Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Dalam banyak diskusi teknologi, fokus sering diarahkan pada pengetahuan eksplisit. Data dan instruksi dianggap cukup untuk merepresentasikan pemahaman.
Masalah muncul saat instruksi dijalankan. Sebuah perintah hanya bermakna jika ada kemampuan untuk memahami konteksnya. Tanpa itu, simbol hanya menjadi rangkaian bentuk tanpa arti.
Di sini terlihat hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Pengetahuan eksplisit selalu bertumpu pada pengetahuan tasit. Makna tidak berasal dari struktur kode, tetapi dari kemampuan manusia dalam menafsirkannya.
Tiga Lapisan Pengetahuan Tasit
Pembagian dari Collins membantu melihat struktur ini dengan lebih jelas.
Relational Tacit Knowledge
Pengetahuan ini tidak dijelaskan karena faktor sosial atau situasional. Informasi sebenarnya dapat diungkapkan, namun tidak dibagikan. Hambatan terletak pada hubungan, bukan pada sifat pengetahuannya.
Somatic Tacit Knowledge
Pengetahuan ini melekat pada tubuh. Koordinasi gerak, refleks, dan keterampilan terbentuk melalui pengalaman langsung. Penjelasan teoritis tidak secara otomatis menghasilkan kemampuan.
Collective Tacit Knowledge
Pengetahuan ini berkembang dalam kehidupan sosial. Bahasa, norma, dan makna terbentuk melalui interaksi. Pemahaman tidak berdiri pada individu, tetapi pada keterlibatan dalam suatu komunitas.
Lapisan terakhir ini menjadi batas yang paling sulit ditembus oleh mesin.
Mengapa Mesin Terlihat Memahami
Sistem seperti ChatGPT mampu menghasilkan respons yang kompleks. Struktur kalimatnya rapi dan sering terasa relevan.
Namun proses yang terjadi berbeda dengan pemahaman manusia. Mesin memproses pola, sementara manusia memberi makna. Ketika sebuah respons terasa tepat, interpretasi tersebut datang dari pembaca yang memiliki pengetahuan kolektif.
Artinya, kesan “memahami” muncul dari interaksi antara output mesin dan kapasitas manusia dalam menafsirkannya.
Dua Jenis Tindakan dan Batasnya
Collins membedakan dua jenis tindakan yang penting untuk melihat kemampuan mesin.
Mimeomorphic Action
Tindakan dengan pola yang stabil dan dapat diulang. Mesin bekerja efektif karena tidak membutuhkan penyesuaian konteks.
Polimorphic Action
Tindakan yang berubah sesuai situasi. Cara berbicara, merespons, dan bersikap menyesuaikan konteks sosial. Makna tetap terjaga melalui perubahan bentuk.
Kesulitan utama mesin terletak pada jenis kedua. Tanpa pengalaman sosial, tidak ada dasar untuk menyesuaikan tindakan secara bermakna.
Ketika Upaya Formulasi Menemukan Batasnya
Upaya untuk mengubah seluruh pengetahuan menjadi kode justru memperlihatkan batas yang jelas. Semakin banyak yang diformalisasi, semakin terlihat bahwa sebagian pemahaman tidak bekerja dalam bentuk eksplisit.
Pengetahuan tasit menjadi terlihat karena usaha untuk menggantikannya tidak pernah benar-benar berhasil.
Makna dan Posisi Manusia
Perkembangan teknologi akan terus meningkatkan kemampuan dalam mengolah informasi. Kecepatan dan akurasi akan berkembang jauh.
Namun makna tetap terbentuk melalui keterlibatan dalam kehidupan sosial. Pemahaman tidak hanya bergantung pada data, tetapi pada pengalaman dan konteks.
Di sini posisi manusia menjadi lebih tegas. Manusia berperan sebagai pembentuk makna, bukan sekadar pengolah informasi.
Pertanyaan yang tersisa menjadi lebih mendasar. Ketika mesin semakin mampu meniru tindakan, apakah manusia sudah memahami bahwa keunggulannya tidak terletak pada apa yang bisa ditiru, tetapi pada apa yang hanya bisa dipahami?