Ada satu kalimat klasik yang sering diulang di dunia menulis.
The secret of becoming a writer is to write, write, and keep on writing.
Kalimat ini terdengar klise karena terlalu sering benar. Tidak ada jalan lain. Tidak ada trik tersembunyi. Menulis hanya bisa dilatih dengan menulis.
Praktik Selalu Lebih Kuat dari Teori
Banyak orang membaca banyak buku tentang menulis, tapi jarang menulis. Padahal kemampuan menulis tidak tumbuh dari pemahaman saja.
Practice makes all things perfect bukan slogan kosong. Tulisan menjadi lebih rapi, lebih terstruktur, dan lebih enak dibaca karena satu hal. Latihan yang diulang.
Tulisan pertama hampir selalu berantakan. Tulisan ke sepuluh mulai terasa. Tulisan ke seratus baru terlihat polanya. Ini bukan bakat, ini akumulasi.
Menulis Itu Proses Panjang, Bukan Lonjakan
Perbaikan dalam menulis tidak terasa cepat. Bahkan sering tidak terasa sama sekali kalau dilihat harian. Tapi kalau dibandingkan setahun lalu, perbedaannya akan ada.
Dalam proses ini, yang diuji bukan kecerdasan, tapi ketahanan. Mau duduk dan menulis, meski hasilnya biasa. Mau mengulang, meski progresnya pelan.
Kesempurnaan dalam menulis bukan sesuatu yang dikejar sekali jalan. Ia didekati perlahan lewat kebiasaan.
Jangan Tunggu Siap, Mulai Dulu
Menunggu siap biasanya hanya alasan yang terdengar logis. Menulis tidak dimulai dari kondisi ideal.
Kalau ingin tulisan membaik, tidak ada pilihan lain. Tulis hari ini. Tulis besok. Tulis lagi minggu depan. Dengan atau tanpa rasa yakin.
Menulis yang konsisten akan mengajari penulisnya lebih banyak daripada teori mana pun.