“Tulisan yang baik sering dimulai dari gagasan yang belum rapi, lalu menemukan bentuknya melalui proses editing.”
Wicarita
Jangan Menulis Sambil Mengedit
Ada kebiasaan yang membuat proses menulis terasa lebih berat daripada seharusnya. Baru satu kalimat selesai, kita sudah memeriksa pilihan kata, memperbaiki struktur, mengganti istilah, lalu mempertanyakan apakah gagasan tersebut cukup bagus. Akibatnya, proses berpikir terus terputus sebelum gagasan berkembang menjadi paragraf.
Menulis dan mengedit membutuhkan pekerjaan mental yang berbeda. Menulis memberikan ruang bagi gagasan untuk muncul, sedangkan editing menuntut kemampuan mengambil jarak, memilih, memotong, dan menyusun kembali.
Karena itu, keduanya sebaiknya dipisahkan.
Mulai dari Seratus Kata
Ketika paragraf terasa sulit, jangan langsung mengejar paragraf yang sempurna. Mulailah dengan sekitar 100 kata.
Seratus kata berfungsi sebagai bahan mentah. Tulis gagasan yang muncul, termasuk alasan, contoh, pertanyaan, atau hubungan antargagasan yang belum tersusun rapi. Pilihan kata dan struktur kalimat dapat diperbaiki kemudian.
Setelah bahan terkumpul, barulah editing dimulai. Bacalah kembali dan lihat bagian mana yang perlu dipertahankan, digabungkan, dipindahkan, atau dihapus.
Cara ini mengubah hubungan kita dengan halaman kosong. Kita tidak sedang dituntut menghasilkan tulisan final. Kita sedang mengumpulkan bahan untuk kemudian diolah.
Masalahnya Terlihat Setelah Tulisan Ada
Menulis 100 kata bukan berarti semua 100 kata harus dipertahankan. Justru setelah gagasan dituangkan, struktur pemikiran menjadi lebih mudah terlihat.
Sebuah paragraf mungkin ternyata memuat tiga gagasan. Sebuah pernyataan mungkin belum memiliki alasan. Sebuah argumen mungkin terdengar meyakinkan tetapi tidak didukung bukti. Ada pula kalimat yang menarik tetapi sebenarnya tidak berkontribusi terhadap gagasan utama.
Editing membuat masalah berpikir menjadi terlihat melalui tulisan.
Karena itu, editing bukan sekadar memperbaiki tata bahasa. Pekerjaan yang lebih penting adalah menemukan hubungan antargagasan dan memastikan setiap kalimat memiliki fungsi.
Untuk membantu proses tersebut, kita dapat menggunakan PREC.
PREC sebagai Kerangka Berpikir
PREC terdiri atas empat unsur:
P — Point: gagasan utama yang ingin disampaikan.
R — Reason: alasan yang menjelaskan mengapa gagasan tersebut masuk akal atau penting.
E — Evidence: data, fakta, penelitian, contoh, pengalaman, atau teori yang mendukungnya.
C — Conclusion: penegasan makna atau implikasi dari argumentasi.
PREC bukan formula agar semua paragraf memiliki bentuk yang sama. Ia lebih tepat dipahami sebagai alat pemeriksaan argumentasi.
Setelah menulis bebas, kita dapat bertanya: apa yang sebenarnya ingin saya katakan, mengapa hal itu penting, apa yang mendukungnya, lalu apa yang dapat dipahami pembaca setelah membaca paragraf tersebut?
P — Point: Apa yang Ingin Dikatakan?
Point adalah pusat paragraf. Setelah menulis sekitar 100 kata, cobalah merumuskan seluruh isi paragraf menjadi satu gagasan utama.
Pertanyaannya sederhana:
“Jika paragraf ini hanya boleh menyampaikan satu gagasan, apa yang ingin saya katakan?”
Jawaban tersebut menjadi Point. Kalimat lain kemudian harus memiliki hubungan dengan gagasan tersebut.
Jika sebuah kalimat tidak memperkuat Point, kita memiliki tiga pilihan: memindahkannya, mengembangkannya menjadi paragraf lain, atau menghapusnya.
R — Reason: Mengapa Gagasan Itu Penting?
Point menyampaikan gagasan. Reason menjelaskan mengapa gagasan tersebut dapat diterima.
Misalnya:
Menulis membutuhkan disiplin.
Pernyataan tersebut masih berupa klaim. Kita membutuhkan alasan untuk menjelaskan hubungan logisnya. Disiplin membantu penulis mempertahankan proses menulis ketika inspirasi, motivasi, atau suasana hati berubah.
Reason membuat paragraf bergerak dari pernyataan menuju argumentasi.
E — Evidence: Apa yang Mendukungnya?
Argumen membutuhkan Evidence.
Bukti dapat berupa statistik, penelitian, teori, contoh kasus, pengalaman yang relevan, observasi, maupun ilustrasi konkret. Bentuknya dapat berbeda sesuai jenis tulisan, tetapi prinsipnya sama: evidence harus memiliki hubungan dengan klaim yang sedang dibangun.
Fakta yang menarik belum tentu merupakan bukti yang relevan. Karena itu, setelah memasukkan sebuah evidence, tanyakan:
“Bukti ini mendukung bagian mana dari argumen saya?”
Jika hubungan tersebut tidak jelas, evidence mungkin perlu diperbaiki atau diganti.
C — Conclusion: Apa yang Dapat Dipahami?
Conclusion mengikat kembali argumentasi. Kesimpulan dalam paragraf tidak harus selalu menggunakan frasa “dengan demikian”.
Fungsinya adalah menunjukkan makna, implikasi, atau arah pemikiran berikutnya.
Misalnya, setelah menjelaskan bahwa banyaknya data belum otomatis menghasilkan kebijakan yang baik, paragraf dapat diarahkan kepada kebutuhan meningkatkan kapasitas manusia dan organisasi dalam menggunakan data.
Paragraf kemudian tidak berhenti pada informasi. Ia menghasilkan pemahaman.
Dari 100 Kata Menjadi Paragraf
Misalnya kita ingin menulis tentang kebiasaan membaca. Tulislah terlebih dahulu secara bebas:
Banyak orang mengatakan bahwa membaca itu penting. Membaca bisa menambah pengetahuan dan membuat kita mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Orang yang banyak membaca juga biasanya memiliki banyak informasi dan bisa membicarakan banyak topik. Tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan media sosial dan membaca sesuatu yang pendek-pendek. Hal ini membuat kebiasaan membaca buku menjadi berkurang. Padahal membaca buku membutuhkan konsentrasi dan waktu yang lebih panjang. Kalau kita membiasakan membaca setiap hari walaupun hanya beberapa halaman, mungkin pengetahuan kita akan bertambah dan kita juga bisa lebih terbiasa berkonsentrasi.
Setelah itu, jangan langsung memperbaiki setiap kalimat. Bedah gagasannya terlebih dahulu.
Point: Membaca tetap penting di tengah derasnya informasi digital.
Reason: Membaca melatih kemampuan memahami informasi secara lebih panjang dan mendalam.
Evidence: Pola konsumsi informasi digital banyak berlangsung melalui konten singkat, sedangkan buku membutuhkan perhatian yang lebih berkelanjutan.
Conclusion: Kebiasaan membaca perlu dipertahankan melalui praktik yang konsisten.
Hasil akhirnya dapat ditulis seperti ini:
Membaca tetap penting di tengah derasnya informasi digital. Aktivitas membaca membantu memperluas pengetahuan sekaligus melatih kemampuan mempertahankan perhatian pada informasi yang lebih panjang dan kompleks. Sementara konsumsi konten digital cenderung berlangsung secara cepat dan terfragmentasi, membaca buku membutuhkan waktu serta konsentrasi yang lebih berkelanjutan. Karena itu, kebiasaan membaca dapat dibangun melalui praktik sederhana, seperti menyediakan waktu untuk membaca beberapa halaman setiap hari. Yang penting bukan mengejar jumlah halaman, melainkan membangun kembali kemampuan memberi perhatian secara utuh kepada sebuah gagasan.
Perbedaannya bukan sekadar jumlah kata. Struktur berpikirnya menjadi lebih jelas.

PREC Bukan Sekadar Teknik Menulis
Kekuatan PREC sebenarnya terletak pada cara kerangka ini memaksa penulis memeriksa pikirannya sendiri.
Sebelum bertanya apakah kalimat sudah indah, kita perlu mengetahui apakah gagasannya jelas. Sebelum menambahkan data, kita perlu mengetahui klaim apa yang sedang didukung. Sebelum menutup paragraf, kita perlu mengetahui pemahaman apa yang ingin ditinggalkan kepada pembaca.
Karena itu, PREC dapat digunakan dalam berbagai bentuk tulisan:
Artikel: menjaga alur argumentasi.
Esai akademik: menghubungkan klaim dengan evidence.
Laporan: memperjelas hubungan antara temuan dan implikasi.
Tulisan kebijakan: menghubungkan masalah, alasan, bukti, dan rekomendasi.
Materi pembelajaran: membantu menyusun gagasan secara sistematis.
Pada akhirnya, prosesnya cukup sederhana:
Tulis sekitar 100 kata. Biarkan gagasan muncul. Setelah itu, edit dengan PREC.
Tulis dahulu agar pikiran memiliki bahan untuk bekerja. Edit kemudian agar gagasan menemukan bentuk yang lebih jernih.
“Jangan menuntut kalimat pertama menjadi sempurna. Tugas kalimat pertama adalah membuka jalan bagi gagasan; tugas editing adalah menemukan bentuk terbaiknya.”