Dua Saudara, Dua Kehidupan
Ada sebuah kisah yang sering digunakan dalam psikologi untuk menjelaskan betapa rumitnya hubungan antara pengalaman dan identitas.
Dua orang saudara tumbuh di rumah yang sama. Mereka dibesarkan oleh orang tua yang sama, mendengar pertengkaran yang sama, dan menyaksikan berbagai peristiwa yang relatif serupa sepanjang masa kecilnya. Jika identitas hanya dibentuk oleh pengalaman, keduanya seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang hampir sama. Namun kehidupan sering menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Ketika memasuki usia dewasa, salah satu saudara berkembang menjadi sosok yang hangat dan penuh perhatian terhadap keluarganya. Pengalaman masa kecil yang menyakitkan berubah menjadi kompas yang menunjukkan kehidupan seperti apa yang ingin dibangun. Setiap kekurangan yang pernah dirasakan menjadi alasan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Saudaranya menempuh arah yang berbeda. Berbagai pola yang dahulu dilihat pada sang ayah perlahan muncul kembali dalam kehidupannya. Cara menghadapi konflik, cara mengekspresikan kemarahan, hingga pola hubungan yang dibangun memiliki kemiripan yang sulit diabaikan. Pengalaman yang sama menghasilkan kehidupan yang berbeda.
Ketika keduanya ditanya mengapa hidup mereka berkembang ke arah tersebut, jawaban yang muncul sama-sama masuk akal.
Saudara pertama menjawab bahwa pengalaman masa kecil mendorongnya untuk tidak mengulangi pola yang sama.
Saudara kedua menjawab bahwa pengalaman masa kecil membuatnya menjadi seperti yang disaksikannya sejak kecil.
Dua orang.
Dua kesimpulan.
Dua kehidupan.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman tidak bekerja secara langsung membentuk identitas. Di antara pengalaman dan identitas terdapat sebuah proses yang jauh lebih menentukan.
Manusia tidak hanya mengalami kehidupan. Manusia menafsirkan kehidupan.
Peta Makna
Pengalaman tidak pernah datang bersama arti yang sudah jadi. Setiap manusia menafsirkan apa yang dialaminya, lalu membangun pemahaman tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia. Kumpulan penafsiran tersebut menjadi peta makna yang digunakan untuk menjalani kehidupan.
Di Antara Pengalaman dan Identitas
Fenomena seperti dua saudara tersebut sebenarnya dapat ditemukan hampir di mana saja. Dua orang kehilangan pekerjaan pada waktu yang hampir bersamaan. Salah satunya memandang peristiwa tersebut sebagai tanda bahwa hidup sedang runtuh. Yang lain melihatnya sebagai kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru. Dua siswa menerima kritik yang sama dari gurunya. Salah satunya membawa kritik tersebut sebagai luka yang terus diingat selama bertahun-tahun. Yang lain mengubah kritik tersebut menjadi dorongan untuk berkembang.
Peristiwanya serupa.
Hasilnya berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak bergerak secara langsung dari pengalaman menuju identitas. Ada sebuah lapisan yang bekerja di antara keduanya. Lapisan tersebut tidak terlihat, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara seseorang menjalani hidupnya.
Bayangkan seseorang yang baru saja menerima surat penolakan kerja. Secara objektif, yang terjadi sangat sederhana. Sebuah perusahaan memutuskan untuk tidak menerima lamaran yang diajukan. Namun setelah surat tersebut dibaca, dua kemungkinan kehidupan mulai terbentuk.
Sebagian orang memandang penolakan tersebut sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup mampu. Kesimpulan tersebut kemudian memengaruhi rasa percaya diri, keberanian mencoba kembali, dan cara memandang masa depan.
Sebagian yang lain melihat penolakan yang sama sebagai bagian dari proses yang memang harus dilalui sebelum menemukan tempat yang lebih sesuai. Kesimpulan tersebut menghasilkan respons yang berbeda, meskipun fakta awalnya identik.
Perbedaannya tidak terletak pada surat yang diterima.
Perbedaannya terletak pada makna yang diberikan terhadap surat tersebut.
Karena yang menentukan bukan hanya apa yang terjadi.
Yang menentukan adalah arti yang diberikan kepada apa yang terjadi.
Sering kali manusia mengingat peristiwa yang mengubah hidupnya. Namun yang lebih menentukan daripada peristiwa tersebut adalah kesimpulan yang dibawa setelahnya. Kesimpulan itulah yang perlahan membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri.
Dunia yang Kita Baca
Setiap hari manusia berhadapan dengan berbagai peristiwa. Sebagian menghadirkan kegembiraan. Sebagian menghadirkan kehilangan. Sebagian meninggalkan bekas yang bertahan selama bertahun-tahun. Namun pengaruh sebuah pengalaman tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi. Pengaruh tersebut juga ditentukan oleh cara pengalaman itu dipahami.
Makna selalu dipengaruhi oleh berbagai hal yang sudah ada sebelumnya.
Pengalaman masa lalu.
Harapan yang dimiliki.
Ketakutan yang dibawa.
Keyakinan yang telah terbentuk.
Cerita yang selama ini dipercaya.
Karena itu dua orang dapat hidup dalam kenyataan yang tampak sama namun merasakan dunia yang berbeda.
Seorang melihat peluang.
Orang lain melihat ancaman.
Seorang melihat pelajaran.
Orang lain melihat penghukuman.
Seorang melihat kemungkinan.
Orang lain melihat batasan.
Perbedaan tersebut sering kali tidak berasal dari dunia yang dihadapi, melainkan dari cara dunia tersebut dibaca.
Bayangkan dua orang memasuki hutan yang sama. Jalurnya identik. Cuacanya sama. Pepohonannya sama. Namun salah satu membawa peta yang menunjukkan berbagai kemungkinan jalan keluar, sementara yang lain membawa peta yang hanya dipenuhi tanda bahaya. Meskipun berjalan di tempat yang sama, pengalaman yang dirasakan akan berkembang ke arah yang berbeda.
Kehidupan manusia bekerja dengan cara yang serupa.
Kita tidak pernah berhadapan dengan dunia secara langsung. Kita selalu berhadapan dengan dunia melalui cara kita memahaminya.
Cerita yang Kita Percaya
Seiring berjalannya waktu, peta makna yang digunakan seseorang untuk memahami kehidupan tidak lagi berhenti sebagai cara membaca peristiwa. Peta tersebut perlahan berubah menjadi cerita.
Cerita inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Menariknya, cerita tersebut jarang hadir dalam bentuk narasi panjang yang disadari setiap hari. Cerita tersebut lebih sering muncul dalam bentuk kalimat-kalimat pendek yang berulang di dalam pikiran.
"Aku memang selalu gagal."
"Aku tidak cukup baik."
"Aku harus bekerja lebih keras daripada orang lain."
"Aku bisa belajar dari pengalaman ini."
Pada awalnya, berbagai keyakinan tersebut hanyalah interpretasi terhadap pengalaman. Namun ketika terus diulang selama bertahun-tahun, batas antara interpretasi dan kenyataan mulai mengabur.
Sebuah cerita yang sering diulang akhirnya terasa seperti fakta.
Padahal banyak di antaranya berawal dari satu kesimpulan kecil yang lahir dari pengalaman tertentu pada masa lalu.
Inilah salah satu alasan mengapa dua orang yang mengalami peristiwa yang hampir sama dapat berkembang menjadi pribadi yang sangat berbeda. Perbedaannya tidak hanya terletak pada apa yang mereka alami, melainkan pada cerita yang mereka bangun untuk menjelaskan pengalaman tersebut.
Cerita Batin
Setelah pengalaman diberi makna, manusia mulai menyusunnya menjadi cerita. Cerita tersebut menjelaskan siapa diri kita, apa yang mungkin terjadi, apa yang perlu diwaspadai, dan apa yang layak diperjuangkan. Dari cerita itulah identitas perlahan terbentuk.
Ketika Kehidupan Menjadi Narasi
Psikolog Dan McAdams menawarkan cara pandang yang menarik untuk memahami identitas manusia. Ketika banyak penelitian berusaha memahami manusia melalui sifat kepribadian, skor psikologis, atau pengukuran perilaku, pendekatan yang digunakan berbeda. Manusia diminta menceritakan kehidupannya sebagai sebuah kisah.
Mereka diminta menceritakan pengalaman yang paling membanggakan, titik terendah dalam kehidupan, peristiwa yang mengubah arah hidup, harapan terbesar yang ingin dicapai, serta ketakutan yang terus membayangi masa depan.
Dari berbagai penelitian tersebut muncul sebuah pemahaman yang mendalam.
Manusia memahami dirinya melalui narasi.
Ketika seseorang berbicara tentang dirinya, yang muncul bukan sekadar fakta-fakta kehidupan. Yang muncul adalah hubungan antara berbagai fakta tersebut. Seseorang menjelaskan mengapa sebuah kegagalan menjadi penting. Mengapa sebuah kehilangan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Mengapa sebuah keberhasilan menjadi titik balik yang menentukan arah masa depan.
Dengan kata lain, manusia tidak hanya hidup melalui pengalaman.
Manusia hidup melalui cerita yang dibangun dari pengalaman tersebut.
Dua orang dapat kehilangan pekerjaan pada usia yang sama.
Salah satu menceritakan peristiwa tersebut sebagai awal kehancuran hidupnya.
Yang lain menceritakannya sebagai awal perjalanan menemukan panggilan hidup yang sebenarnya.
Peristiwanya identik.
Narasinya berbeda.
Dan narasi yang berbeda menghasilkan kehidupan yang berbeda pula.
Penulis Kehidupan
Ada kenyataan yang sering terlupakan ketika membicarakan identitas.
Tidak seorang pun dapat memilih seluruh peristiwa yang akan terjadi dalam hidupnya.
Manusia tidak dapat memilih keluarga tempat dilahirkan. Tidak dapat mengendalikan seluruh kondisi lingkungan yang membentuk masa kecilnya. Tidak dapat memastikan bahwa kehidupan akan selalu berjalan sesuai rencana.
Namun manusia memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan bagaimana berbagai peristiwa tersebut dimaknai.
Di sinilah setiap orang sesungguhnya berperan sebagai penulis bagi kehidupannya sendiri.
Peran tersebut bukan berarti manusia bebas menciptakan fakta sesuka hati. Pengalaman hidup tetap menjadi bahan mentah yang harus dihadapi apa adanya. Namun setiap manusia terus melakukan proses penyuntingan makna terhadap pengalaman tersebut.
Sebagian orang menulis kisah hidupnya sebagai perjalanan yang penuh keterbatasan.
Sebagian yang lain menulis kisah yang sama sebagai perjalanan pembelajaran.
Sebagian menjadikan luka sebagai alasan untuk menutup diri.
Sebagian menjadikan luka sebagai alasan untuk memahami orang lain dengan lebih baik.
Pilihan-pilihan makna tersebut perlahan membentuk keyakinan tentang siapa diri kita.
Keyakinan tersebut memengaruhi keputusan yang diambil.
Keputusan melahirkan pengalaman baru.
Pengalaman baru memperkuat cerita yang sudah ada.
Dan siklus tersebut terus berulang sepanjang kehidupan.
Karena itu, identitas bukan sekadar hasil dari masa lalu. Identitas juga merupakan hasil dari cerita yang terus kita bangun tentang masa lalu tersebut.
Banyak cerita yang paling memengaruhi hidup kita tidak pernah ditulis dalam buku, tidak pernah diucapkan dalam percakapan, dan tidak pernah dipublikasikan kepada siapa pun. Cerita tersebut hidup dalam cara kita menjelaskan kegagalan, keberhasilan, penolakan, kehilangan, dan harapan yang pernah dialami. Dari sanalah berbagai keputusan lahir. Dari sanalah berbagai versi diri mulai terbentuk.
Sebelum Kita Mengenal Diri
Ketika seorang anak mulai mengenali dunia, kemampuan untuk memahami dirinya sendiri masih sangat terbatas. Pada masa-masa awal kehidupan, berbagai pengalaman hadir terlebih dahulu sebelum kemampuan untuk menjelaskannya berkembang dengan matang.
Pujian, kritik, penerimaan, penolakan, keberhasilan, dan kegagalan meninggalkan jejak yang perlahan dikumpulkan oleh pikiran. Dari berbagai pengalaman tersebut lahir berbagai kesimpulan awal tentang diri sendiri dan dunia.
Sebagian kesimpulan berkembang menjadi sumber keberanian.
Sebagian berkembang menjadi sumber keraguan.
Sebagian melahirkan rasa aman.
Sebagian melahirkan kewaspadaan yang berlebihan.
Lama-kelamaan berbagai kesimpulan tersebut saling terhubung dan membentuk cerita yang lebih besar. Cerita tersebut berjalan bersama kita selama bertahun-tahun. Cerita tersebut memengaruhi cara melihat diri sendiri, cara memahami orang lain, dan cara membayangkan masa depan.
Apa yang hari ini disebut sebagai identitas sering kali berakar pada cerita yang telah lama hidup di dalam diri.
Cerita tersebut menjadi lensa yang digunakan untuk memahami kehidupan.
Cerita tersebut menjadi peta yang membantu seseorang menafsirkan berbagai pengalaman baru.
Dan apabila identitas tumbuh dari cerita, maka pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik.
Dari mana cerita-cerita itu pertama kali mulai ditulis?