Kisah Maryam dalam Surah Maryam ayat 21–26 menghadirkan gambaran konkret tentang ikhtiar. Maryam mengandung lalu mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Ketika rasa sakit melahirkan datang, ia bersandar pada pangkal pohon kurma dan mengungkapkan keputusasaan. Secara fisik ia lemah, secara sosial ia tertekan.
Dalam kondisi itu, datang penguatan agar ia tidak bersedih. Disebutkan bahwa di bawahnya telah ada aliran air. Lalu perintah berikutnya diberikan, menggoyangkan pangkal pohon kurma agar buahnya jatuh.
Perintah ini tidak sederhana jika dilihat dari situasinya. Seorang perempuan yang sedang menghadapi persalinan jelas tidak berada dalam kondisi kuat untuk mengguncang batang kurma. Namun tetap ada perintah untuk bergerak.
Di sinilah prinsipnya. Rezeki disediakan, tetapi ikhtiar tetap diwajibkan.
Pengertian Ikhtiar dalam Islam
Ikhtiar adalah usaha bersungguh-sungguh dan maksimal yang dilakukan manusia dengan mengerahkan kemampuan, potensi, dan keterampilan untuk mencapai tujuan yang baik sesuai syariat. Ikhtiar bukan tindakan asal bergerak, melainkan usaha yang terarah, disiplin, dan jujur. Ia biasanya disertai doa dan diakhiri dengan tawakal.
Secara bahasa, ikhtiar berasal dari akar kata khair, yang berarti baik. Artinya, ikhtiar adalah memilih jalan terbaik yang tersedia dalam batas kemampuan manusia.
Dalam kerangka ajaran Islam, ikhtiar tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari tiga kesatuan:
Ikhtiar sebagai usaha aktif.
Doa sebagai permohonan kepada Allah.
Tawakal sebagai penyerahan hasil akhir.
Ikhtiar juga berkaitan dengan prinsip perubahan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Artinya, usaha manusia menjadi bagian dari mekanisme perubahan.
Islam tidak mengajarkan sikap pasif. Berdiam diri tanpa usaha bukan bentuk ketakwaan. Produktivitas dan tanggung jawab justru ditekankan.
Ikhtiar Maryam sebagai Teladan
Perintah menggoyangkan pohon kurma menunjukkan bahwa bahkan dalam keadaan paling lemah, manusia tetap diminta melakukan tindakan. Buah kurma jatuh bukan semata karena tenaga Maryam. Hasil itu terjadi karena kehendak Allah. Namun kehendak itu hadir setelah ada gerakan.
Ikhtiar di sini bukan soal efektivitas fisik, tetapi tentang posisi manusia sebagai pelaku. Maryam tidak diminta menebang pohon atau memanjatnya. Ia diminta melakukan tindakan yang mungkin dilakukan dalam batas kemampuannya.
Setelah itu, ia diperintahkan makan, minum, dan menenangkan diri. Bahkan cara menghadapi tekanan sosial pun diarahkan. Artinya, rezeki fisik dan strategi menghadapi masyarakat sama-sama berada dalam pengaturan ilahi, tetapi tetap melalui tahapan usaha manusia.
Ikhtiar Bukan Pasrah
Dalam kehidupan sehari-hari, ikhtiar hadir dalam bentuk:
Bekerja keras dan profesional.
Rajin belajar dan meningkatkan kompetensi.
Berwirausaha secara halal.
Mengelola keuangan dengan bijak.
Orang yang berikhtiar sadar bahwa proses adalah tanggung jawabnya, sedangkan hasil akhir adalah ketetapan Allah. Kesadaran ini melahirkan semangat dan disiplin, sekaligus mencegah keputusasaan.
Jika berhasil, ia tidak sombong karena tahu hasil bukan murni miliknya. Jika belum berhasil, ia tidak runtuh karena tahu tugasnya adalah berusaha.
Kisah Maryam menegaskan keseimbangan itu. Dalam kondisi paling rapuh, ia tetap diperintahkan bergerak. Ikhtiar adalah pengakuan bahwa manusia bertanggung jawab atas langkahnya, sementara hasil tetap berada dalam keputusan Allah.
QS Maryam 21 - 26
قَالَ كَذٰلِكِۚ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌۚ وَلِنَجْعَلَهٗٓ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّاۚ وَكَانَ اَمْرًا مَّقْضِيًّا
Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu sangat mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran-Ku) bagi manusia dan rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهٖ مَكَانًا قَصِيًّا
Maka, dia (Maryam) mengandungnya, lalu mengasingkan diri bersamanya ke tempat yang jauh.
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya).”
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
Dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih. Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ
Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًاۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ
Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’”