Kesadaran terbesar dalam hidup bukanlah mengetahui bahwa kita akan mati, melainkan memahami apa yang layak dibawa sebelum akhirnya pulang.
Ketika Hidup Dianggap Sebagai Tujuan
Sebagian besar manusia menjalani hidup dengan asumsi yang tidak pernah benar-benar diperiksa. Kita menganggap bahwa dunia adalah tujuan akhir dan bahwa seluruh makna kehidupan berada di dalam batas waktu yang sedang dijalani sekarang. Karena itu, hampir semua energi diarahkan untuk memperoleh apa yang dianggap bernilai: kekayaan, jabatan, relasi, pengaruh, maupun berbagai bentuk pencapaian pribadi.
Cara pandang tersebut membuat manusia mudah mengukur dirinya berdasarkan apa yang berhasil dimiliki. Keberhasilan dianggap sebagai bukti nilai diri, sementara kegagalan sering dipahami sebagai kehilangan makna. Tidak mengherankan jika banyak orang mengalami kecemasan ketika kehilangan pekerjaan, kehilangan status sosial, atau kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari identitasnya.
Konsep Mati Sak Jeroning Urip muncul sebagai kritik terhadap cara pandang tersebut. Dalam pemikiran yang banyak dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar dan kemudian diteruskan oleh Sunan Kalijogo, kehidupan dunia tidak dipahami sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai fase perjalanan yang lebih besar. Karena itu, pertanyaan yang penting bukanlah berapa lama seseorang hidup atau seberapa banyak yang berhasil dikumpulkannya, tetapi apakah ia memahami arah dari perjalanan yang sedang dijalaninya.
1. Ketika Dunia Menjadi Ukuran Segalanya
Salah satu sumber kegelisahan manusia adalah kecenderungan menjadikan dunia sebagai ukuran utama keberhasilan. Ketika seluruh perhatian terfokus pada apa yang dapat dimiliki, manusia mudah terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah selesai. Setelah satu target tercapai, muncul target berikutnya. Setelah satu pencapaian diraih, lahir keinginan untuk memperoleh pencapaian yang lebih besar.
Masalahnya bukan pada pencapaian itu sendiri. Masalahnya terletak pada keyakinan bahwa kepuasan hidup akan datang ketika seluruh target tersebut berhasil dicapai. Pengalaman menunjukkan hal yang berbeda. Banyak orang berhasil memperoleh apa yang diinginkannya, tetapi tetap merasa ada ruang kosong yang tidak terisi.
Hal ini terjadi karena manusia tidak hanya membutuhkan keberhasilan. Manusia juga membutuhkan makna yang menjelaskan untuk apa keberhasilan tersebut digunakan.
2. Kesalahpahaman tentang Mati Sebelum Mati (Mati Saat Masih Hidup)
Karena istilahnya terdengar ekstrem, banyak orang memahami Mati Sak Jeroning Urip sebagai ajakan menjauhi kehidupan atau menolak dunia. Dalam sejarahnya bahkan muncul berbagai kesalahpahaman yang membuat sebagian orang memahami konsep ini secara harfiah.
Padahal inti pemikirannya justru berkebalikan.
Yang diminta untuk "mati" bukanlah tubuh. Yang perlu ditinggalkan adalah berbagai ilusi yang membuat manusia kehilangan arah. Ilusi bahwa seluruh kebahagiaan bergantung pada kepemilikan. Ilusi bahwa identitas seseorang ditentukan oleh statusnya. Dan ilusi bahwa dunia adalah satu-satunya realitas yang penting.
Karena itu, Mati Sak Jeroning Urip bukanlah ajaran tentang kematian. Ia adalah ajaran tentang cara hidup dengan kesadaran yang lebih luas.
Dunia yang Bukan Rumah
Jika dunia bukan tujuan akhir, lalu bagaimana seharusnya dunia dipahami?
Hampir seluruh tradisi kebijaksanaan memberikan jawaban yang serupa. Dunia bukan rumah yang permanen, melainkan ruang transit yang mempersiapkan manusia menuju tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Pemahaman ini dijelaskan melalui beberapa analogi yang sederhana tetapi sangat kuat.
1. Dunia sebagai Tempat Persinggahan
Bayangkan seseorang sedang melakukan perjalanan jauh dan berhenti di sebuah tempat peristirahatan. Tempat tersebut nyaman, menyediakan berbagai kebutuhan, dan memungkinkan dirinya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Namun tidak ada orang yang membangun rumah permanen di tempat peristirahatan.
Ia memanfaatkannya tanpa melupakan tujuan akhirnya.
Analogi ini menjelaskan posisi dunia dalam kehidupan manusia. Dunia memiliki nilai yang penting karena di sinilah manusia belajar, bekerja, membangun hubungan, dan mengembangkan dirinya. Namun seluruh aktivitas tersebut kehilangan arah ketika manusia lupa bahwa dirinya sedang berada dalam perjalanan.
2. Dunia sebagai Pasar
Sunan Kalijogo menggambarkan dunia seperti pasar. Pasar adalah tempat yang ramai, penuh pilihan, penuh kesempatan, dan sering kali menyenangkan. Orang datang untuk memperoleh sesuatu yang dibutuhkan, tetapi tidak ada yang menganggap pasar sebagai rumah.
Masalah muncul ketika manusia mulai memperlakukan dunia seperti tujuan akhir. Seluruh hidup dihabiskan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin tanpa pernah bertanya apakah semua yang dikumpulkan benar-benar diperlukan.
Pasar yang sehat membantu seseorang memenuhi kebutuhannya. Pasar yang dipahami secara keliru membuat seseorang sibuk mengumpulkan sesuatu yang tidak pernah selesai dikumpulkan.
3. Dunia sebagai Mimpi
Imam Ghazali menggunakan analogi yang berbeda. Menurut beliau, kehidupan menyerupai mimpi. Ketika seseorang sedang bermimpi, seluruh pengalaman di dalamnya terasa nyata. Ketakutan terasa nyata, kesedihan terasa nyata, dan kebahagiaan pun terasa nyata.
Namun ketika terbangun, perspektif berubah. Berbagai hal yang sebelumnya terasa sangat besar terlihat dalam ukuran yang berbeda.
Analogi ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa dunia tidak nyata. Yang ingin ditunjukkan adalah bahwa manusia sering menilai segala sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang yang sangat terbatas. Apa yang hari ini dianggap sebagai pusat kehidupan bisa jadi hanyalah bagian kecil dari cerita yang jauh lebih besar.
4. Dunia sebagai Perjalanan Kembali
Seluruh analogi tersebut pada akhirnya mengarah pada satu kesadaran yang sama: kehidupan adalah perjalanan pulang.
Dalam tradisi Islam, kesadaran tersebut terangkum dalam ungkapan:
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.
Kita berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Karena itu, kehidupan bukan sekadar perjalanan menuju masa depan, melainkan perjalanan kembali menuju asal keberadaan kita.
Kesadaran ini mengubah cara seseorang memandang dunia. Keberhasilan tidak lagi menjadi alasan untuk merasa memiliki segalanya, dan kegagalan tidak lagi dipandang sebagai akhir dari segalanya. Keduanya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan yang lebih besar daripada apa yang terlihat hari ini.
Apa yang Harus Mati Sebelum Mati
Memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan belum otomatis mengubah cara hidup seseorang. Banyak orang mengetahui bahwa segala sesuatu bersifat sementara, tetapi tetap hidup seolah-olah akan tinggal selamanya. Pengetahuan tidak selalu menghasilkan kesadaran, dan kesadaran tidak selalu menghasilkan perubahan.
Karena itu, Mati Sak Jeroning Urip tidak berhenti pada cara memandang dunia. Konsep ini juga berbicara tentang apa yang harus ditinggalkan agar manusia dapat menjalani hidup dengan lebih merdeka. Yang dimaksud bukan meninggalkan dunia secara fisik, melainkan melepaskan berbagai hal yang membuat manusia kehilangan arah hidupnya.
Dalam pemahaman ini, terdapat empat tahapan penting yang menggambarkan proses "mematikan diri" sebelum kematian fisik benar-benar datang.
1. Mematikan Dosa dan Maksiat
Perjalanan apa pun membutuhkan arah yang jelas. Tidak mungkin seseorang berharap tiba di tujuan jika setiap hari bergerak menjauhinya.
Karena itu, tahapan pertama adalah mematikan berbagai kebiasaan yang secara sadar mengarahkan manusia kepada keburukan. Dosa dan maksiat tidak hanya dipahami sebagai pelanggaran moral, tetapi juga sebagai kebiasaan yang perlahan merusak kemampuan manusia untuk melihat dirinya sendiri secara jernih.
Kebohongan yang terus diulang membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap kejujuran. Keserakahan yang terus dipelihara membuat seseorang sulit merasa cukup. Ketidakadilan yang dibiarkan menjadi kebiasaan perlahan mengubah standar benar dan salah dalam pikirannya.
Masalah terbesar dari dosa bukan hanya konsekuensinya di masa depan. Masalah terbesarnya adalah kemampuannya mengubah cara manusia memandang dunia pada hari ini. Sesuatu yang awalnya terasa salah dapat perlahan terlihat wajar ketika dilakukan berulang kali.
Karena itu, mematikan dosa pada dasarnya adalah usaha menjaga kejernihan hati dan akal agar manusia tetap mampu membedakan mana yang benar dan mana yang hanya terasa nyaman.
2. Mematikan Kesia-siaan
Tidak semua yang menghabiskan hidup manusia berbentuk kesalahan. Sebagian justru hadir dalam bentuk aktivitas yang tampak aman, menyenangkan, bahkan tidak berdosa.
Di sinilah muncul konsep lahwun , yaitu berbagai kesibukan yang tidak memberikan nilai berarti bagi kehidupan.
Fenomena ini menjadi semakin relevan di zaman modern. Manusia memiliki akses tanpa batas terhadap hiburan, informasi, dan distraksi. Beberapa menit membuka media sosial dapat berubah menjadi satu jam. Satu video berubah menjadi puluhan video. Satu hiburan berubah menjadi kebiasaan yang menghabiskan sebagian besar perhatian setiap hari.
Masalahnya bukan pada hiburan itu sendiri.
Masalahnya muncul ketika hidup perlahan habis untuk sesuatu yang tidak membantu pertumbuhan, tidak memperdalam pemahaman, dan tidak mendekatkan manusia kepada tujuan hidupnya.
Kesia-siaan memiliki karakter yang berbeda dari dosa. Dosa membawa manusia ke arah yang salah. Kesia-siaan membuat manusia berhenti bergerak. Ia tidak merusak secara langsung, tetapi menghabiskan waktu yang tidak pernah dapat dikembalikan.
Karena itu, salah satu bentuk kesadaran yang paling penting adalah kemampuan membedakan antara apa yang sekadar mengisi waktu dan apa yang benar-benar memberi nilai bagi kehidupan.
3. Melepaskan Keterikatan Duniawi
Setelah seseorang berusaha menjauhi keburukan dan mengurangi kesia-siaan, tantangan berikutnya menjadi lebih halus.
Tantangan tersebut adalah keterikatan.
Sering kali orang mengira bahwa kehidupan yang bermakna menuntut manusia meninggalkan harta, jabatan, atau keluarga. Padahal persoalannya bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada hubungan manusia dengan apa yang dimilikinya.
Harta tidak pernah menjadi masalah selama ia berfungsi sebagai alat. Masalah muncul ketika harta menjadi sumber utama rasa aman. Jabatan tidak menjadi masalah selama ia dipahami sebagai amanah. Masalah muncul ketika jabatan menjadi sumber utama identitas. Bahkan hubungan dengan keluarga dapat berubah menjadi keterikatan yang tidak sehat ketika seluruh makna hidup digantungkan kepada manusia lain.
Perbedaan antara memiliki dan dimiliki sering kali sangat tipis.
Seseorang dapat memiliki banyak hal tanpa terikat padanya. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sangat sedikit tetapi hidupnya sepenuhnya dikuasai oleh keinginan untuk mempertahankan apa yang dimiliki.
Karena itu, melepaskan keterikatan bukan berarti membuang dunia. Yang dilepaskan adalah keyakinan bahwa kebahagiaan bergantung sepenuhnya pada dunia.
Kesadaran ini membuat manusia lebih siap menghadapi kehilangan, perubahan, dan berbagai ketidakpastian yang merupakan bagian alami dari kehidupan.
4. Menaklukkan Ego
Tahapan terakhir sekaligus yang paling sulit adalah menaklukkan ego.
Jika harta, jabatan, dan berbagai bentuk kepemilikan berada di luar diri manusia, maka ego hidup di dalam dirinya sendiri. Ia tidak selalu terlihat, tetapi pengaruhnya dapat menjangkau hampir seluruh keputusan yang diambil seseorang.
Ego muncul ketika manusia merasa dirinya lebih penting daripada yang sebenarnya. Ia muncul dalam bentuk kesombongan, keinginan untuk selalu benar, kebutuhan untuk diakui, dan dorongan untuk menjadi pusat perhatian.
Yang membuat ego sulit dikenali adalah kemampuannya bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat baik. Seseorang dapat merasa bangga karena ilmunya, karena ibadahnya, karena pengalamannya, bahkan karena kerendahan hatinya sendiri.
Akibatnya, semakin banyak yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kemungkinan ego menemukan tempat untuk tumbuh.
Karena itu, perjuangan melawan ego tidak pernah benar-benar selesai. Ia bukan persoalan menghilangkan rasa percaya diri, melainkan menyadari bahwa seluruh kemampuan yang dimiliki manusia pada akhirnya merupakan anugerah yang tidak sepenuhnya lahir dari dirinya sendiri.
Ketika ego mulai berkurang, kebutuhan untuk membuktikan diri kepada orang lain juga ikut berkurang. Seseorang tidak lagi terlalu sibuk mencari pengakuan karena memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh penilaian manusia lain.
Menjaga Diri di Tengah Arus Zaman
Melepaskan keterikatan dan menaklukkan ego terdengar masuk akal ketika dibahas dalam ruang refleksi. Tantangan sesungguhnya muncul ketika seseorang harus menjalani semua itu di tengah dunia yang tidak selalu ideal.
Kenyataan hidup sering kali mempertemukan manusia dengan sistem yang tidak sepenuhnya bersih, budaya yang tidak selalu sehat, dan lingkungan yang tidak selalu mendukung nilai-nilai yang diyakininya. Dalam kondisi seperti itu, muncul pertanyaan yang sangat praktis: bagaimana menjaga diri tanpa harus menjauh dari kehidupan?
Tradisi Jawa memiliki sebuah prinsip yang menarik untuk menjawab persoalan tersebut:
Angeli ananging ora keli.
Mengikuti arus, tetapi tidak hanyut.
Prinsip ini lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak mungkin hidup terpisah dari zamannya. Kita bekerja di dalam sistem, hidup di tengah masyarakat, dan berinteraksi dengan berbagai realitas yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Namun menerima kenyataan tersebut tidak berarti kehilangan prinsip yang menjadi pegangan hidup.
1. Integritas di Tengah Sistem yang Rusak
Salah satu godaan terbesar dalam kehidupan bukanlah melakukan kesalahan karena tidak tahu, melainkan melakukan kesalahan karena semua orang melakukannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering berhadapan dengan situasi yang tidak ideal. Sistem yang seharusnya melayani masyarakat bisa berubah menjadi alat kepentingan. Aturan yang dibuat untuk menciptakan keteraturan bisa disalahgunakan. Bahkan dalam lingkungan yang terlihat baik sekalipun, selalu ada ruang bagi penyimpangan.
Masalahnya, banyak orang menjadikan buruknya keadaan sebagai alasan untuk menurunkan kualitas dirinya sendiri.
Ketika ketidakjujuran dianggap normal, sebagian orang merasa tidak ada gunanya berlaku jujur.
Ketika manipulasi dianggap lumrah, sebagian orang mulai menganggap integritas sebagai sesuatu yang naif.
Ketika keburukan terlihat lebih menguntungkan daripada kebaikan, muncul godaan untuk mengikuti jalan yang sama.
Di sinilah prinsip angeli ananging ora keli menemukan relevansinya.
Mengikuti arus zaman bukan berarti kehilangan arah. Menyesuaikan diri dengan kenyataan bukan berarti menyerahkan seluruh prinsip yang dimiliki. Tidak semua orang memiliki kekuatan untuk memperbaiki sistem yang besar, tetapi setiap orang memiliki pilihan untuk tidak ikut menjadi bagian dari kerusakan tersebut.
Sebab kerusakan terbesar bukanlah ketika lingkungan menjadi buruk. Kerusakan terbesar terjadi ketika manusia mulai menganggap keburukan sebagai sesuatu yang wajar di dalam dirinya sendiri.
Integritas karena itu bukan sekadar persoalan moral. Integritas adalah kemampuan menjaga arah ketika lingkungan mendorong kita bergerak ke arah yang berbeda.
2. Mengenali Asal Sebuah Keinginan
Sebagian besar keputusan manusia tidak lahir dari peristiwa besar. Keputusan tersebut lahir dari dorongan-dorongan kecil yang muncul setiap hari di dalam pikiran dan hati.
Keinginan untuk berbicara.
Keinginan untuk bertindak.
Keinginan untuk memiliki sesuatu.
Keinginan untuk menghindari sesuatu.
Masalahnya, tidak semua keinginan berasal dari sumber yang sama. Karena itu, salah satu bentuk kedewasaan yang penting adalah kemampuan mengenali dari mana sebuah dorongan muncul sebelum mengikutinya.
a. Dorongan yang Mengarah pada Kebaikan
Ada keinginan yang membuat manusia bergerak menuju sesuatu yang lebih baik daripada dirinya hari ini. Dorongan untuk membantu orang lain, memperbaiki kesalahan, berkata jujur, belajar, atau menjalankan tanggung jawab sering kali muncul meskipun tidak selalu memberikan keuntungan yang cepat.
Dorongan semacam ini biasanya menuntut usaha. Ia tidak selalu nyaman. Bahkan terkadang mengharuskan seseorang mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi sesuatu yang dianggap lebih benar.
Namun semakin sering diikuti, semakin besar pula ketenangan yang dihasilkan.
b. Dorongan yang Mencari Kenyamanan
Berbeda dengan dorongan menuju kebaikan, sebagian keinginan hanya berusaha mencari kenyamanan.
Kenyamanan bukan sesuatu yang buruk. Istirahat, hiburan, dan kesenangan merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Persoalan muncul ketika seluruh keputusan hidup hanya diukur berdasarkan apa yang terasa menyenangkan.
Pada titik itu, manusia mulai menghindari hal-hal yang sebenarnya penting bagi pertumbuhannya. Belajar terasa berat. Disiplin terasa menyiksa. Tanggung jawab terasa mengganggu kebebasan.
Padahal hampir semua hal yang bernilai dalam hidup membutuhkan kemampuan untuk melewati ketidaknyamanan jangka pendek demi manfaat yang lebih besar di masa depan.
c. Dorongan yang Mengarah pada Keburukan
Ada pula dorongan yang secara jelas mengajak manusia menuju kesalahan.
Dorongan untuk merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.
Dorongan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya diketahui salah.
Dorongan untuk memelihara kebencian, kesombongan, atau rasa iri.
Yang menarik, dorongan semacam ini jarang datang dalam bentuk yang kasar. Ia lebih sering hadir dalam bentuk pembenaran. Manusia mulai menemukan alasan-alasan yang membuat kesalahan terlihat masuk akal. Sedikit demi sedikit batas antara benar dan salah menjadi kabur.
Karena itu, menjaga diri bukan hanya soal menghindari tindakan yang buruk. Menjaga diri juga berarti menjaga kejernihan berpikir agar tidak mudah tertipu oleh alasan-alasan yang kita ciptakan sendiri.
Belajar Pulang Sebelum Dipanggil Pulang
Pada akhirnya, Mati Sak Jeroning Urip bukanlah ajaran untuk membenci dunia. Ia juga bukan ajaran untuk menjauh dari kehidupan. Justru sebaliknya, konsep ini mengajak manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih utuh.
Dunia tidak perlu ditinggalkan. Dunia juga tidak perlu dimusuhi. Yang perlu diubah adalah cara manusia memandang dunia.
Dalam ajaran Islam, dunia disebut sebagai mazraatul akhirah, ladang tempat manusia menanam sesuatu yang kelak akan dipanen di kehidupan berikutnya. Sebagaimana seorang petani membutuhkan tanah untuk menanam benih, manusia membutuhkan dunia untuk menanam ilmu, amal, integritas, kasih sayang, tanggung jawab, dan berbagai bentuk kebaikan yang akan menentukan kualitas hasil panennya kelak.
Pemahaman ini mengubah hubungan manusia dengan dunia. Harta tidak lagi dipandang sebagai tujuan, melainkan sebagai alat. Jabatan tidak lagi menjadi identitas, melainkan amanah. Pengetahuan tidak lagi menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi, melainkan sarana untuk memberi manfaat yang lebih luas.
Dunia tetap penting, tetapi kepentingannya berubah. Ia bukan lagi tempat menetap, melainkan tempat mempersiapkan bekal.
Karena itu, inti dari Mati Sak Jeroning Urip bukanlah menghilangkan kehidupan duniawi. Yang perlu "mati" adalah berbagai keterikatan yang membuat manusia lupa ke mana arah perjalanannya. Yang perlu "mati" adalah ego yang menjadikan diri sebagai pusat dari segala sesuatu. Yang perlu "mati" adalah ilusi bahwa seluruh kebahagiaan dapat ditemukan melalui apa yang dimiliki dan dikuasai.
Ketika keterikatan tersebut mulai berkurang, manusia tidak kehilangan semangat hidup. Justru sebaliknya. Ia menjadi lebih bebas untuk mencintai tanpa takut kehilangan, bekerja tanpa diperbudak ambisi, dan berusaha tanpa menggantungkan seluruh harga dirinya pada hasil yang diperoleh.
Pada titik inilah ungkapan yang sering diucapkan dalam kehidupan menemukan maknanya yang lebih dalam:
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.
Kita berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Kehidupan bukanlah perjalanan menuju sesuatu yang asing, melainkan perjalanan pulang menuju asal keberadaan kita.
Mungkin karena itulah orang-orang bijak tidak terlalu sibuk mengajarkan cara menghadapi kematian. Mereka lebih banyak mengajarkan cara menjalani kehidupan. Sebab seseorang yang telah belajar pulang sepanjang hidupnya tidak akan terlalu asing ketika akhirnya benar-benar dipanggil pulang.
Dan mungkin, makna terdalam dari Mati Sak Jeroning Urip bukanlah tentang kematian itu sendiri, melainkan tentang keberanian untuk hidup tanpa diperbudak oleh hal-hal yang suatu hari pasti harus ditinggalkan.