Kita jarang kekurangan informasi untuk bahagia. Yang lebih sering kurang adalah kemampuan memilah mana yang layak dikejar dan mana yang perlu dilepas - Wicarita
Coba ingat apa saja yang kita pelajari tentang hidup bahagia dalam sebulan terakhir. Video satu menit tentang stoikisme, utas tentang cara berhenti overthinking, tujuh kebiasaan pagi orang sukses, kutipan bijak yang lewat di sela iklan. Pengetahuan tentang kebahagiaan belum pernah semurah dan semelimpah ini. Namun bagi sebagian dari kita, malam tetap berakhir dengan pikiran yang sama gelisahnya, hanya kini ditemani istilah yang lebih banyak untuk menamai kegelisahan itu.
Dari pengalaman semacam ini lahir kesimpulan yang terdengar bijak: ilmu tidak ada urusannya dengan bahagia. Banyak orang pintar yang murung, banyak orang sederhana yang tenteram. Kesimpulan itu punya contoh nyata di sekitar kita, sehingga mudah dipercaya.
Masalahnya, tradisi filsafat yang paling serius membicarakan kebahagiaan justru berpendapat sebaliknya. Al-Farabi menempatkan kebahagiaan (sa'adah) sebagai muara eksistensi manusia, puncak yang dituju baik di dunia maupun di akhirat, dan jalan ke sana dibuka oleh pengetahuan. Kaidahnya bisa diringkas dalam satu frasa: knowledge comes before happiness, ilmu mendahului kebahagiaan. Kebahagiaan sejati tidak jatuh secara kebetulan. Ilmu adalah kompas sekaligus prasyaratnya.
Jadi siapa yang keliru? Bisa jadi keduanya benar, karena keduanya tidak sedang membicarakan hal yang sama ketika menyebut kata "ilmu".
Informasi menumpuk, ketenangan tidak ikut naik
Yang kita kumpulkan setiap hari sebagian besar adalah informasi: tambahan isi kepala. Ilmu dalam tradisi yang dirujuk tadi bekerja dengan cara lain. Fungsinya yang paling dasar adalah membedakan. Ada tiga alasan mengapa manusia membutuhkan daya membedakan itu untuk bahagia.
Alasan pertama berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk potensi. Manusia dibekali akal budi dan kejernihan hati, tetapi keduanya tidak teraktualisasi dengan sendirinya. Akal dan hati perlu dilatih dan diasah, dan ilmu adalah alat asahnya. Dalam pembacaan atas Ibnu Sina, ketika potensi itu teraktualisasi secara optimal, manusia menemukan rasa nyaman dan bahagia sebagai manusia, bukan sekadar sebagai makhluk yang kebutuhannya terpenuhi.
Alasan kedua: hidup bergerak karena manusia punya keinginan. Keinginan itu sendiri tidak bermasalah. Yang menentukan adalah apakah keinginan dipenuhi dan dikelola dengan benar, dan untuk itu orang perlu tahu keinginan mana yang menumbuhkan dan mana yang menggerogoti.
Alasan ketiga paling klasik. Ilmu memungkinkan manusia membedakan yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk, dan tindakan baik itulah yang membuahkan kebahagiaan sejati.
Ketiga alasan ini menunjuk ke satu fungsi yang sama. Informasi menambah jumlah hal yang kita ketahui. Ilmu menajamkan kemampuan memilah di antara hal-hal itu. Orang bisa menumpuk informasi bertahun-tahun tanpa daya memilahnya bertambah sedikit pun, dan karena itulah ketenangan tidak ikut naik bersama tumpukan bacaan. Daya memilah inilah yang bekerja pada kebahagiaan, setidaknya di empat wilayah.
Tangga yang sering berhenti di anak tangga pertama
Wilayah pertama adalah memilah kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan punya tingkatan, dan tingkatan itu bisa digambarkan sebagai tangga:
Pleasure, kesenangan fisik: makan enak, tidur nyenyak, belanja. Durasinya pendek dan batasnya cepat tercapai.
Achievement atau success, kebahagiaan karena pencapaian dan keberhasilan.
Good life, ketenangan yang lahir dari hidup jujur dan benar.
Meaningful life, kebahagiaan karena mampu menolong dan berdampak bagi sesama.
Ultimate good, kebahagiaan tertinggi yang berlandaskan keikhlasan, tanpa keterikatan pada pamrih.
Semakin tinggi anak tangganya, semakin panjang umur kebahagiaannya, dan semakin sedikit ketergantungannya pada keadaan luar. Kesenangan makan habis bersama piringnya. Kebahagiaan karena berprestasi bertahan lebih lama, tetapi mudah pudar ketika target berikutnya muncul. Ketenangan hidup jujur tidak bergantung pada pujian siapa pun.
Ada satu mekanisme yang membuat tangga ini sering hanya dinaiki setengah jalan: orang tidak bisa menginginkan sesuatu yang tidak bisa dikenalinya. Tanpa ilmu, kesenangan sesaat gampang dianggap sebagai bahagia itu sendiri. Ketika kesenangan itu habis, orang mengulanginya dengan dosis lebih besar, atau berpura-pura puas. Inilah fake happiness, kebahagiaan semu: bukan karena orangnya munafik, tetapi karena peta yang dimilikinya hanya memuat satu anak tangga. Ilmu meluaskan peta itu, sehingga manusia bisa melihat ada kebahagiaan yang nilainya lebih tinggi dan dampaknya lebih panjang, lalu mengarahkan hidupnya ke sana.
Peta saja belum cukup. Kebenaran yang sudah diketahui masih perlu diterapkan, dan di sini ilmu berubah menjadi kebijaksanaan (wisdom): kemampuan menerapkan kebenaran secara tepat, sesuai ruang, waktu, dan porsinya. Nasihat yang benar bisa melukai bila disampaikan kepada orang yang sedang berduka di saat yang salah. Karena itu kebijaksanaan memerlukan jenis ilmu yang jarang diajarkan di ruang kelas: ilmu membaca realitas, empati, dan pemahaman atas situasi.
Ketakutan yang kehilangan cengkeramannya
Wilayah kedua adalah memilah rasa takut. Banyak kecemasan bersumber dari ketidaktahuan (ignorance). Bunyi aneh dari mesin mobil terasa jauh lebih menakutkan sebelum montir menjelaskan penyebabnya, meskipun kerusakannya sama. Orang yang menunggu hasil pemeriksaan sering lebih gelisah daripada orang yang sudah tahu diagnosisnya dan sudah tahu langkah berikutnya. Ketidaktahuan membiarkan imajinasi mengisi kekosongan, dan imajinasi yang cemas cenderung memilih kemungkinan terburuk.
Nurcholish Madjid membaca hal ini lewat konsep Al-Qur'an tentang taskhir, yaitu bahwa alam ditundukkan bagi manusia. Penundukan itu tidak terjadi secara gaib. Manusia memahami alam lewat ilmu, dan apa yang sudah dipahami kehilangan sebagian daya menakutkannya. Petir yang dulu dibaca sebagai amarah langit menjadi gejala listrik yang bisa diantisipasi. Dalam pembacaan Wicarita, taskhir punya dimensi batin juga: setiap hal yang kita pahami adalah satu hal yang tidak lagi menguasai kita lewat rasa takut. Ketenangan batin, dengan begitu, sebagian dibangun dari pengertian.
Kenaifan juga punya harga
Wilayah ketiga lebih sosial. Ilmu membebaskan manusia dari konyolnya kebodohan dan kenaifan: percaya pada janji yang tidak masuk akal, menelan kabar tanpa memeriksanya, atau mengira ketidakadilan adalah keadaan alamiah yang memang begitu adanya.
Dalam situasi sosial yang sarat ketidakadilan, ilmu memberi dua hal sekaligus: kesadaran bahwa ada yang salah, dan dorongan moral untuk tidak tinggal diam. Kebahagiaan yang muncul dari sini berbeda rasanya dari kesenangan. Ada kelegaan batin dan semacam kebanggaan yang tenang ketika seseorang memilih ikut berjuang melawan ketidakadilan, sekecil apa pun perannya. Kebahagiaan jenis ini mustahil dicapai oleh orang yang bahkan tidak menyadari bahwa ada ketidakadilan di depan matanya.
Hikmah adalah ilmu dengan takaran yang tepat
Kembali ke tumpukan video dan utas tadi. Ada ironi di sana: daya memilah yang dibicarakan sejak awal ternyata juga harus diarahkan kepada ilmu itu sendiri. Informasi melimpah, sementara waktu terbatas. Tidak semua yang benar perlu diketahui sekarang, dan tidak semua yang menarik relevan bagi hidup kita. Memilih ilmu yang dibutuhkan menuntut kesadaran diri (self-awareness): tahu sedang berada di mana, sedang menghadapi apa, dan sedang membutuhkan apa.
Imam al-Ghazali punya nama untuk ilmu dengan takaran yang tepat ini: hikmah. Ilmu yang pas, tidak berlebihan dan tidak berkekurangan, serta bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Ukuran hikmah adalah ketepatan, dan banyaknya bacaan tidak menjamin apa pun. Orang yang menonton seratus video tentang ketenangan mungkin justru kurang hikmah dibanding orang yang memahami satu prinsip dan benar-benar menjalankannya.
Garis antara yang bisa diubah dan yang harus dilepas
Wilayah keempat barangkali paling menentukan bagi ketenangan sehari-hari: memilah apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak. Kearifan Jawa merumuskannya dalam tiga gerak:
Jangkah: menentukan sasaran dan tujuan hidup yang jelas.
Obah: bergerak dan berikhtiar secara nyata.
Pasrah atau nrimo ing pandum: menerima dan rida terhadap hasil yang ditakdirkan, setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal.
Filsafat Stoa sampai pada garis yang mirip dari arah yang jauh berbeda. Epictetus membuka Enchiridion dengan membedakan hal-hal yang berada dalam kuasa kita, seperti penilaian, keinginan, dan tindakan, dari hal-hal yang di luar kuasa kita, seperti tubuh, reputasi, dan jabatan. Menurut kaum Stoa, yang mengganggu manusia sering kali bukan peristiwanya, melainkan penilaian kita atas peristiwa itu. Kedamaian batin terjaga ketika kita tidak mengizinkan gangguan dari luar merusak pikiran tanpa seizin kita.
Kedua tradisi ini menarik garis, dan menarik garis itu membutuhkan ilmu. Tanpa ilmu, orang bisa keliru di dua arah. Ada yang pasrah terlalu dini, menyebut kemalasan sebagai takdir dan berhenti sebelum obah benar-benar dijalani. Ada yang terus mendorong sesuatu yang memang tidak bisa digerakkan, lalu kelelahan dan menyalahkan diri sendiri. Kedua kekeliruan itu sama-sama menghasilkan kegelisahan. Ilmu yang cukup membuat orang tahu kapan harus mengencangkan tangan dan kapan harus membukanya.
Setelah layar dimatikan
Bayangkan lagi orang yang terjaga di malam hari dengan kepala penuh bacaan tentang kebahagiaan. Yang dibutuhkannya mungkin tidak berupa satu video lagi. Pertanyaannya bisa bergeser dari "apa lagi yang perlu saya ketahui?" menjadi "apa yang sudah saya ketahui tetapi belum pernah saya pakai untuk memilah?" Mana kesenangan yang selama ini dikira bahagia. Mana ketakutan yang sebenarnya hanya ketidaktahuan. Mana bacaan yang pas untuk hidupnya sekarang, dan mana yang hanya menambah bising. Mana urusan yang masih bisa dikerjakan besok pagi, dan mana yang sudah saatnya diserahkan.
Dengan cara itu, ilmu tidak lagi tinggal sebagai wawasan di dalam kepala. Ilmu menjadi penuntun sikap, penawar kecemasan, dan prasyarat bagi hidup yang bijaksana. Orang pintar yang murung itu mungkin tidak kebanyakan ilmu. Mungkin ilmunya belum pernah dipakai untuk memilah hidupnya sendiri.
Referensi untuk pendalamana selanjutnya
Al-Farabi. Tahsil al-Sa'adah (Pencapaian Kebahagiaan) dan Ara' Ahl al-Madinah al-Fadilah.
Ibnu Sina, tentang aktualisasi potensi jiwa.
Al-Ghazali. Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Riyadhat al-Nafs
Epictetus. Enchiridion, bagian 1 dan 5.