"Ketika kenyamanan menjadi tujuan hidup, manusia tidak hanya mengurangi rasa sakit, tetapi juga mengurangi kesempatan untuk bertumbuh."
— Wicarita
Ketika Kenyamanan Menjadi Standar Kehidupan
Tidak pernah ada generasi yang hidup senyaman manusia hari ini.
Dalam beberapa dekade terakhir, peradaban berhasil menghadirkan berbagai kemajuan yang sebelumnya hanya menjadi impian. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, makanan tiba tanpa harus keluar rumah, pekerjaan menjadi lebih ringan berkat teknologi, dan komunikasi berlangsung tanpa lagi mengenal batas geografis. Hampir setiap inovasi lahir dari tujuan yang sama, yaitu membuat hidup menjadi lebih mudah.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru karena kemampuan mengurangi berbagai kesulitan, kualitas hidup manusia meningkat secara luar biasa.
Namun, setiap kemajuan selalu membawa perubahan yang tidak langsung terlihat.
Kita akan melihat salah satu sudut “kemajuan ” ini melalui buku The Palliative Society yang ditulis oleh Byung-Chul Han, seorang filsuf kelahiran Korea Selatan yang kemudian berkarier di Jerman sebagai profesor filsafat dan teori budaya di Berlin University of the Arts. Pemikirannya banyak mengkaji bagaimana masyarakat modern berubah di bawah pengaruh neoliberalisme, teknologi digital, budaya produktivitas, dan cara hidup yang semakin berorientasi pada efisiensi.
Dahulu, kenyamanan adalah hasil dari kemajuan. Hari ini, kenyamanan perlahan berubah menjadi standar kehidupan. Kita mulai berharap segala sesuatu berjalan cepat, mudah, dan sesuai harapan. Ketika kenyataan bergerak sedikit lebih lambat, muncul rasa gelisah. Ketika menerima kritik, kita merasa diserang. Ketika mengalami penolakan, kita mempertanyakankan nilai diri sendiri. Bahkan keheningan yang dahulu menjadi ruang untuk berpikir kini segera dipenuhi oleh notifikasi, hiburan, atau percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sedang mengubah cara manusia memahami kehidupan. Kita tidak lagi hanya berusaha mengurangi penderitaan yang memang tidak perlu. Kita mulai berharap bahwa kehidupan seharusnya bebas dari hampir seluruh bentuk ketidaknyamanan.
Di sinilah persoalan itu bermula.

Rasa Sakit yang Kehilangan Tempatnya
Hampir semua orang sepakat bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang ingin dihindari. Ketika tubuh terluka, kita mencari pengobatan. Ketika menghadapi masalah, kita mencari jalan keluar. Keinginan untuk hidup lebih baik adalah naluri yang sangat manusiawi.
Namun, perlahan muncul perubahan cara pandang yang lebih mendasar. Rasa sakit tidak lagi dipahami sebagai bagian dari kehidupan, melainkan sebagai sesuatu yang dianggap tidak seharusnya hadir.
Akibatnya, hampir setiap pengalaman yang tidak nyaman mulai diperlakukan sebagai kegagalan. Kesedihan harus segera dihilangkan. Kegagalan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Hubungan diharapkan selalu membahagiakan. Pekerjaan harus selalu memberikan kepuasan. Seolah-olah kehidupan yang baik adalah kehidupan yang hanya dipenuhi oleh pengalaman positif.
Padahal, pengalaman manusia menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Hampir semua hal yang paling berharga justru lahir melalui proses yang tidak selalu mudah. Seorang anak belajar berjalan setelah berkali-kali terjatuh. Seorang atlet bertumbuh melalui latihan yang melelahkan. Seorang peneliti menghabiskan bertahun-tahun menghadapi kegagalan sebelum menemukan jawaban yang dicarinya. Begitu pula hubungan antarmanusia. Kepercayaan tidak lahir karena tidak pernah terjadi konflik, tetapi karena kedua belah pihak memilih bertahan dan bertumbuh melewati konflik tersebut.
Inilah yang membedakan kesenangan dengan fulfillment. Kesenangan dapat hadir dengan cepat, tetapi juga menghilang dengan cepat. Sebaliknya, fulfillment lahir ketika seseorang berhasil menemukan arti dari perjalanan yang telah dilaluinya, termasuk bagian-bagian yang paling tidak nyaman.
Rasa sakit bukanlah tujuan, tetapi sering kali menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pertumbuhan manusia.

Peradaban Digital yang Menghilangkan Friction
Perubahan cara pandang tersebut semakin diperkuat oleh dunia digital. Hampir seluruh teknologi modern dirancang untuk mengurangi berbagai bentuk friction dalam kehidupan. Semakin sedikit hambatan yang dirasakan pengguna, semakin dianggap baik sebuah layanan.
Media sosial menjadi contoh yang paling dekat dengan kehidupan kita. Algoritma terus mempelajari apa yang kita sukai, kemudian menyajikan lebih banyak konten yang serupa. Tanpa disadari, kita hidup di dalam echo chamber, ruang yang dipenuhi oleh pendapat yang menguatkan keyakinan kita sendiri. Pandangan yang berbeda semakin jarang muncul, bukan karena sudah tidak ada, tetapi karena dianggap mengurangi kenyamanan.
Fenomena yang sama juga terlihat dalam berbagai aspek kehidupan digital.
Hubungan sosial semakin menghindari penolakan langsung melalui budaya ghosting dan swiping.
Kesehatan semakin direduksi menjadi angka-angka melalui berbagai aplikasi pemantau tubuh yang mendorong munculnya digital hypochondria.
Media sosial dipenuhi oleh potongan-potongan kebahagiaan yang membuat kehidupan orang lain tampak selalu sempurna, sementara kesedihan dan kegagalan perlahan menghilang dari ruang publik.
Semua perkembangan tersebut memang membuat hidup menjadi lebih praktis.
Namun, ketika hampir seluruh bentuk friction berhasil dihilangkan, manusia juga kehilangan banyak kesempatan untuk melatih ketahanan, menerima perbedaan, dan bertumbuh melalui pengalaman yang tidak selalu menyenangkan.
Peradaban digital tidak hanya mengurangi rasa sakit. Ia juga perlahan mengurangi ruang tempat manusia belajar menghadapi kehidupan.

Ketika Bertahan Hidup Menjadi Tujuan Hidup
Kemajuan ilmu pengetahuan berhasil memperpanjang harapan hidup manusia. Tubuh dapat dipantau setiap saat, penyakit dapat dideteksi lebih dini, dan berbagai teknologi kesehatan membantu kita menjaga kondisi fisik dengan lebih baik.
Namun, kemajuan tersebut juga membawa sebuah kecenderungan baru. Hidup perlahan dipersempit menjadi sekadar proyek mempertahankan fungsi biologis. Kita terus menghitung langkah kaki, memantau kualitas tidur, mengukur detak jantung, mengejar pola makan yang sempurna, dan berusaha memperlambat proses penuaan.
Semua itu tentu bermanfaat.
Tetapi ketika seluruh perhatian hanya diarahkan untuk mempertahankan kehidupan biologis, manusia berisiko kehilangan pertanyaan yang jauh lebih penting: untuk apa kehidupan itu dijalani?
Obsesi menghindari rasa sakit akhirnya berkembang menjadi algophobia, sementara ketakutan kehilangan kehidupan berubah menjadi thanatophobia. Tanpa disadari, hidup dipenuhi oleh upaya menghindari risiko, mengurangi ketidakpastian, dan menjaga keamanan dalam hampir setiap keputusan.
Ironisnya, semakin besar usaha menghindari rasa sakit, semakin kecil pula kemampuan menghadapi rasa sakit ketika ia benar-benar datang.
Pada titik tertentu, manusia tidak lagi hidup dengan bebas. Ia hanya berusaha bertahan hidup.

Kebahagiaan yang Kehilangan Kedalaman
Selama ini kita sering mengukur kebahagiaan dari banyaknya pengalaman yang menyenangkan. Semakin sedikit masalah yang dihadapi, semakin bahagia seseorang dianggap menjalani hidupnya. Cara berpikir seperti ini terasa masuk akal karena hampir semua orang ingin menghindari penderitaan dan memperoleh kenyamanan.
Namun, benarkah kebahagiaan bekerja sesederhana itu?
Jika kita melihat kembali pengalaman hidup, momen-momen yang paling membekas justru jarang lahir dari kehidupan yang sepenuhnya nyaman. Kelulusan terasa begitu membahagiakan karena ada malam-malam panjang yang dipenuhi keraguan dan kerja keras. Seorang pelari mengenang garis finis bukan hanya karena medali yang diterima, tetapi karena setiap langkah berat yang membawanya sampai ke sana. Bahkan sebuah pelukan setelah konflik sering kali terasa lebih bermakna dibandingkan pelukan yang tidak pernah melewati perbedaan.
Pengalaman-pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu datang bersama sesuatu yang menuntut manusia untuk bertahan, belajar, atau berubah.
Inilah mengapa The Palliative Society membedakan antara happiness dan fulfillment. Happiness sering kali hadir sebagai respons terhadap pengalaman yang menyenangkan, sedangkan fulfillment lahir ketika seseorang merasa hidupnya memiliki arah, makna, dan nilai. Perbedaannya mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Seseorang dapat merasakan happiness karena membeli barang yang diinginkan, memperoleh pujian, atau menikmati liburan yang menyenangkan. Semua itu sah dan menjadi bagian dari kehidupan. Namun perasaan tersebut biasanya tidak bertahan lama. Sebaliknya, fulfillment sering kali muncul setelah seseorang menyelesaikan sesuatu yang sulit, memperjuangkan sesuatu yang diyakini, atau berhasil melewati masa-masa yang tidak mudah.
Kebahagiaan yang paling dalam hampir selalu memiliki sejarah perjuangan di belakangnya.
Karena itu, masyarakat yang terus-menerus mengejar kenyamanan berisiko kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting. Bukan karena kenyamanan itu salah, tetapi karena kehidupan yang hanya dipenuhi oleh kenyamanan perlahan kehilangan kontras yang membuat kebahagiaan terasa bermakna.
Tanpa malam, kita sulit memahami indahnya pagi.
Tanpa kehilangan, kita sulit menghargai kehadiran.
Tanpa kegagalan, keberhasilan hanya menjadi sebuah hasil tanpa cerita.
Mungkin karena itulah, rasa sakit dan kebahagiaan bukanlah dua pengalaman yang saling bertentangan. Keduanya tumbuh bersama, saling memberi makna, dan bersama-sama membentuk cara manusia memahami kehidupannya.
